Sejarah Al-azhar

SEKILAS SEJARAH Al-AZHAR

Perjalanan panjang Al-Azhar yang kini jelang usia 1000 tahun lebih memang menarik disimak. Sejak dibangun pertama kali pada 29 jumada Al Ula 359 H. (970 M.) oleh panglima Jauhar Ash shiqillilalu dibuka resmi dan shalat jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H. , lembaga besar yang mulanya sebuah masjid ini bagai tak pernah lelah membidani kelahiran para ulama’ dan cendekiawan muslim. “Masjid sekaligus institusi pendidikan tertua,” itulah penghargaan sejarah buatnya.
Kehadiran Al-Azhar tak bias dipisahkan dari peran dinasti Fathimi yang kala itu dipimpin oleh Khalifah Mu’iz li dinillah ma’ad bin Al-Mansur (319-365 H./931-975 M.), Khalifah ke empat dara dinasti fathimiyyah, jauh sebelumnya ketika islam mulai menyebar ke mesir (641 M.) dimasa khalifah umar bin khattab, pendidikan islam formal sebenarnya telah berjalan sejak berdirinya masjid pertama di Afrika.

Sudah menjadi suatu kaedah tak tertulis bahwa peradaban islam di suatu daerah selalu dikaitkan dengan peran masjid jami’ (masjid negara) dikawasan tersebut. Hal ini mungkin diilhami dari kerja nyata rasulallah SAW. Ketika hijrah kemadinah. Tugas pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid nabawi. Ini menandakan peran masjid yang tidak hanya terbatas pada kegiatan rituan semata. Tapi lebih dari itu, masjid adalah sentral pemerintahan islam, sarana pendidikan, mahkamah, tempat mengeluarkan fatwa, dan sebagainya.
Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh ‘Amru bin ‘Ash ketika menguasai mesir. Atas perintah Khalifah Umar,  panglima ‘amru mendirikan masjid pertama di Afrika yang kemudian dinamakan masjid ‘Amru bin Ash di kota Fushthat, sekaligus menjadi pusat pemerintahan islam mesir ketika itu, selanjutnya dimasa dinasti Abbasiyah ibukota pemeintahan ini berpindah lagi ke kota yang disebut Al-Qotho’i dan ditandai dengan pembangunan masjid bernama Ahmad bin Tholun.

Masa demi masa berlalu, pemeriuntahan pun silih berganti. Tiba era Daulah Fathimiyyah (358 H./969 M.) ibukota mesir berpindah ke Daerah baru atas perintah Khalifah Al-Mu’iz li Dinillah yang menugasi panglimanya, Jauhar Ash shiqilli, untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah melalui tahap pembangunan daerah ini dinamai kota Al Qohirah.
Sebagaimana sejarah islam masa lalu, setiap berganti Daulah selalu ditandai dengan pembangunan masjid di pusat ibukota. Sehingga kurang setahun kemudian, beriringan dengan pembangunan kota Al-Qohirah didirikan pula sebuah masjid bernama Jami’ Al Qohirah (meniru nama ibu kota). Seluruhnya masih dalam penanganan panlima Jauhar Asg Shiqilli.
Pada masa khalifah Al Aziz billah, sekeliling Jami’ Al Qohirah dibangun beberapa istana yang disebut Al Qushur Az Zahirah. Istana-istana ini sebagian besar berada disebelah timur (kini sebelah barat masjid husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil disebelah barat (dekat masjid Al Azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah taman nan indah. Keseluruhan daerah ini dikenal dengan sebutan “Madinatul Fatimiyyin Al-Mulukiyyah”. Kondisi sekitar yang begitu indah bercahaya ini mendorong orang menyebut Jami’ Al Qohirah dengan sebutan baru, Jami’ Al Azhar (Berasal dari kata Zahra’ artinya yang bersinar, bercahaya, berkilauan).
Para khalifah jauh-jauh hari menyadari bahwa kelanjutan Al-Azhar tidak bias lepas dari segi pendanaan. Oleh karena itu setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf bagi bagi Al-Azhar dipelopori oleh khalifah Al Hakim bi amrillah, lalu di ikuti oleh para khalifah berikutnya serta orang orang kaya setempat dan seluruh dunia islam sampai
saat ini. Harta wakaf tersebut kabarnya pernah mencapcai sepertiga dari kekayaan mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan Al Azhar bisa terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama , dan pengiriman utusan Al Azhar ke berbagai penjuru Dunia.
Dari masjid ‘Amru bin Ash dan Ahmad bin Tholun, perlahan poros pendidikan berpindah ke Al-Azhar.
FASE PERALIHAN
Sudah menjadi semacam perjanjian tak tertulis, pada setiap khalifah Daulah Fathimiyyah selalu diadakan restorasi bangunan Jami’ Al Azhar. Hingga ketika gempa hebat sempat merusak Al Azhar pada tahun 1303 M. sultan An Nasir yang memerintah saat itu segera merehab kembali bangunan yang rusak.Ciri spesifik pemugaran bangunan mulai tampak pada masa sultan Qonsouh (1509 M.) yang merestorasi satu menara Al Azhar nan indah dengan dua puncak (Manaratul Azhar Dzatu Ar-ra’sain).
Penyempurnaan Jami’ Al Azhar kembali dilanjutkan pada periode Daulah Utsmani, dengan kegiatan restorasi yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya. Klimaksnya dicapai pada masa Amir Abdurrahman Katakhda (Wafat 1776 M.) dengan menambahkan dua buah menara, mengganti mihrab dan mimbar baru, membuka local belajar bagi yatim piatu, membangun ruang bagi pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo ruang tamu, teras tak beratap dalam masjid, dan tangki air tempet berwudlu, singkat kata hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid Al Azhar kini adalah hasil karya Amir tersebut.
Seiring gelombang pasang surut sejarah, berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan peranannya di lembaga tertua ini, selain sebagai masjid, proses penyebaran faham Syi’ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan Dinasti Fathimi, khususnya di penghujung masa khalifah Al Muiz li Dinillah ketika Qodhil Qudhoh Abu Hasan Ali bin Nu’man Al-Qairiwani mengajarkan fiqih Mazhab Syi’ah, dari kitab Mukhtasyar yang merupakan pelajaran agama pertama di Masjid Al Azhar pada bulan Shafar 365 H. (Oktober 975 M.).
Sesudah itu proses belajar terus berlanjut dengan penekanan utama pada ilmu-ilmu agama dan bahasa, walaupun tanpa mengurangi perhatian terhadap ilmu manthiq, filsafat kedokteran danilmu falak sebagai tambahan yang diikutsertakan.
Namun semenjak Shalahuddin Al ayyubi memegang pemerintahan mesir (tahun 567 H./1171 M.), Al Azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan Alternatif guna mengikis pengaruh Syi’ah. Disinilah mulai dimasukkan perubahan orientasi besar-besaran dari Mazhab Syi’ah ke Mazhab Sunniyang berlaku hingga sekarang meski tak dipungkiri paham syi’a dari sudut akademis masih tetap dipelajari.
FASE REFORMASI
Pembaharuan Administrasi pertama Al Azhar dimulai pada masa pemerintahan Sulthan Ad Dhahir Barquq (784 H./1382 M.) dimana ia mengangkat amir Bahadir At Thawasyi sebagai direktur pertama Al Azhar tahun 784 H. / 1382 M. ini terjadi dalam masa kekuasaan mamalik di Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan Al Azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah.
System ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai mesir dipenghujung abad 11 H. ditandai dengan pengankatan “Syaikh Al ‘Umumy”  yang digelar dengna Syaikh Al Azhar sebegai figure sentral yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa hokum, termasuk tempat mengadukan segala persoalan. Pada fase ini terpilih Syaikh Muhammad Al Khurasyi (1010 H.-1101 H.) Sebagai Syaikh Al Azhar pertama. Secara keseluruhan ada 40 Syaikh yang telah memimpin Al Azhar selam 43 periode, hingga kini dipegang oleh mantan mufti mesir Syaikh Muhammad Thanthawi.
Masa keemasan Al Azhar terjadi pada abad 9 H. (15 M.) banyak ilmuan dan ulama’ islam bermunculan di Al Azhar saat itu, seperti ibnu khaldun, Al farisi, As-Syuyuthi, Al ‘Aini, Al Khawi, Abdul Lathif Al Baghdadi, ibnu Khaliqon, Al Maqrizi dan lainnya yang banyak mewariskan ensiklopedi Arab.
Iklim kemunduran kembali hadir ketika dinasti Utsmani berkuasa di Mesir (1517-1798 M.) Al-Azhar mulai kurang berfungsi disertai kepulangan para ulama’ dan mahasiswa yang berangsur angsur menninggalkan kairo. Meski begitu tambahan berbagai bangunan tetap diupayakan atas prakarsa amir amir Utsmani dan kaum muslimin sedunia.
Kepemimpinan Muhammad ali Pasha di Mesir pada tahap berikutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler, ia juga berusaha menciutkan peranan Al Azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai badan Wakaf Al Azhar yang merupakan urat nadinya. Seterusnya pada masa pemerintahan Khedive Isma’il Pasha (1863-1879 M.) mulai diusahakan reorganisasi pendidikan, dan dari sini pendidikan tradisional mulai bersaing dengan pendidikan modern sekuler. Serangan terhadap pendidikan tradisional sering tampak dari usaha yang menginginkan perbaikan Al Azhar sebagai pusat pendidikan islam terpenting.
Sejak awal abad 19, sistem pendidikan barat mulai diterapkan di sekolah sekolah mesir. Sementara Al Azhar masih saja menggunakan sistem tradisional. Dari sini muncul suara pembaharuan.
Diantara pembaharuan yang menonjol adalah dicantumkannya system ujian untuk mendapatkan ijazah Al ‘Alamiyah (kesarjanaan) Al Azhar pada februeri 1872 M., juga pada tahun  1896 M., buat pertama kali dibentuk Idarah Al Azhar (Dewan Administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di Al Azhar menjadi dua preode: pendidikan Dasar 8 tahun serta menengah dan tinggi 12 tahun. Kurikulum Al Azhaar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: Al ‘Ulum Al Manqulah (Bidang study Agama) Al ‘Ulum Al Manqulah  (Bidang study Umum).
Menyebut pembaharuan di Al Azhar, kita perlu mengingat Muhammad Abduh (1849-1905 M.) mengusulkan perbaikan system pendidikan Al Azhar dengan memasukkan ilmu-ilmu modern kedalam kurukulumnya. Gagasan tersebut mulanya kurang disepakati Syekh Muhammad Al Ambabi. Baru ketika Syekh An Nawawi memimpin Al Azhar, ide Muhammad Abduh bisa berpengaruh. Berangsur angsur mulai diadakan pengaturan masa libur dan masa belajar. Uraian pelajaran yang bertele- tele yang dikenal dengan syarah al hawasyi disederhanakan. Sementara itu kurikulum seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi dan sejarah, telah menerobas A Azhar. Berbarengan ini pula direnofasi ruang Al Azhar sebagai pemondokan bagi guru dan mahasiswa.
AL AZHAR KINI
Pada abad XXI ini, Al Azhar mulai memandang perlunya mempelajari system penelitihan yang dilakukan oleh Universitas di Barat, dan mengirim Alumni terbaiknya untuk belajar ke Eropa dan Amirika. Tujuan mengirim ini adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiah ditingkat internasional sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman islam yang benar. Cukup banyak duta Al Azhar yang berhasil  meraih gelar Ph.D dari Universitas luar tersebut, diantaranya ialah: Syekh DR. Abdul Halim Mahmud, Syekh DR. Muhammad Al Bahy, Dan banyak lagi.
Sebelumnya, pada tahun 1930 M, keluar undang undang no 49 yang mengatur Al Azhar mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, dan membagi Universitas Al Azhar menjadi tiga fakultas yaitu: Syari’ah, Usuluddin, Bahasa Arab.
Fakultras induk Syari’ah wal qonun di Cairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930 M. semula berama Syari’ah, lalu pada tahun 1961 dirubah menjadi nama seperti sekarang. Fakultas indul Usuluddin dan bahasa Arab di Kairo juga didirikan pada tahun 1930 M.  penjurusan diatur kembali pada tahun 1961 M. fakultas Dakwah islamiyyah didirikan dengan keputusan presiden (keppres) no 380 tahun 1978 yang dikeluarkan pada 16 Ramadlon 1398 H. (20 Agustus 1978). Fakultas Dirasah islamiyah wal Arabiyah memulai kuliahnya pada tahun 1965 M. sebagai salah satu jurusan dari Fakultas Syari’ah. Pada tahun 1972 keluar keppres no 7 yang menjadikan fakultas ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama Ma’had Dirasat Al Islamiyah Wal Arabiyah (Institut of Islamic and Arabic studies) namun pada tahun 1976 M. keluar keppres no 299 yang kembali menjadikan institut ini sebagai fakultas tersendiri, dengan jurusan: usuluddin syari’ah islamiyah bahasa dan sastra Arab.
Angin pembaharuan kembali berhembus di Al Azhar pada 5 mei 1961 M. dimasa kepemimpinan Syekh Mahmoud Syalthout. Peran Syaikh Al Azhar diciutkan menjadi jabatan simbolis sehingga kurang mempunyai pengaruh langsung terhadap lembaga pendidikan yang ada dibawah pimpinannya. Undang-undang pembaharuan ini disebut undang-undang revosusi mesir nomor 103 tahun 1961 M. undang-undang ini memberikan kemungkinan besar perubahan structural pendidika di Al Azhar, sehingga diantarany membolehkan lulusan SD atau SMP Al Azhar untuk melanjutkan studinya ke SMP atau SMA milik Departemen pendidikan, atau sebaliknya. Dalam ruang lingkup pendidikan tinggi, disamping fakultas-fakultas keislaman, ditambahkan pula berbagai fakultas baru seperti: Tarbiyah, Kedokteran, Perdagangan/Ekonomi, Sains, Pertanian, Teknik, Farmasi, dan sebagainya. Juga dibangun fakultas khusus putri (Kulliyatul Banat) dengan berbagai jurusan.
Al Azhar mempunyai 3 rumah sakit Universitas: Husein Hospital, Zahra’ Hospital, dan Bab el Sya’riah Hospital. Sementara itu, Nasser Islamic Mission City (Madinat Nasser Lil Bu’ust Al Islamiyah) untuk orang asing dibuka pada bulan September 1959 M.
Universitas (Jami’ah) Al Azhar hanyalah salah satu lembaga resmi yang dimiliki Al Azhar masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti:
  1. Lembaga pendidikan Dasar dan Menengah (Al Ma’ahid A Azhariyah).
  2. Biro Kebudayaan dan missi Islam (Idarah Ats-tsaqofah wal Bu’uts Al Islamiyah).
  3. Majlis tinggi Al Azhar (Al Majlis Al A’la Lil Azhar)
  4. Lembaga Riset Islam (Majma’ Al Buhuts Al Islamiyah).
  5. Hai’ah Ighatsah Al Islamiyah.
Sejak mula berdirinya, studi Al Azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia, hingga kini Universitas Al Azhar memiliki lebih dari 50 Fakultas yang tersebar diseluruh pelosok mesir dengan jumlah Mahasiswa/i melebihi angka 200 ribu orang. Itulah potret Al Azhar yang tetap tegar dalam kurun usia senja
SEJARAH RINGKAS AL-AZHAR
Kaherah merupakan ibu negara Mesir. Umurnya telah menjangkau lebih seribu abad. Bangunan-bangunan lama masih terus didiami, lorong-lorong gelap penuh dengan sampah-sarap, lopak-lopak air dan pelbagai lagi keadaan yang menggambarkan betapa berusianya bandar ini. Walau bagaimanapun, situasi ini seakan tidak terasa, hilang terselindung di sebalik gemerlapan sinar mutiara agung Mesir, al-Azhar, sebuah gedung ilmu yang terkenal di seluruh dunia.
UNIVERSITI TERAWAL DI DUNIA
Seluruh pelusuk dunia mengetahui al-Azhar adalah pusat ilmu yang melahirkan profesional Islam yang sering mengocakkan kealpaan jahiliyyah. Segala permasalahan masyarakat dapat ditangani oleh mereka. Pihak musuh sememangnya memendam dendam dan sentiasa merancang pelbagai strategi untuk menjatuhkan al-Azhar. Sejak dahulu lagi, al-Azhar didatangi oleh para pelajar dari serata dunia seperti China, Eropah, India dan lain-lain. Semakin hari al-Azhar semakin berkembang dan semakin ramai tokoh pemikir Islam yang sejati dilahirkan bermula zaman pemerintahan kerajaan Fatimiyyah tagi.
Mengikutcatatan sejarah silam, Khalifah Aziz Billah telah menubuhkan universiti Islam pertama di dunia iaitu al-Azhar. Mengikut lembaran awal sejarah, tertera bahawa tanggal 969 Masihi merupakan satu tarikh agung bagi negara ini. Kaherah dibuka dengan rasminya dan dijadikan sebagai ibu negara Mesir. Lebih kurang setahun selepas itu, 4 April 97O Masihi bersamaan 24 Jamadil Awal 359 Hijrah, kerja-kerja pembinaan masjid al-Azhar mula dijalankan. Pembinaan masjid dimulakan oleh Jauhari as-Saqoli, seorang panglima yang gagah perkasa pada zaman Fatimiyyah. Usaha mulia ini selesai pada hari Jumaat, 22 Jun 972 Masihi bersamaan 7 Ramadhan 361 Hijrah. Pada hari Jumaat yang bersejarah inilah, solat Jumaat yang pertama didirikan di masjid berkenaan. Pada tahun 378 H (988 M), seorang wali kerajaan Abbasiyah di Mesir, Ya’kub bin Kals telah mencadangkan kepada pemerintah zamannya, Khalifah al-Aziz Billah untuk menjadikan masjid tersebut sebagai Jamiah, institusi pendidikan yang menawarkan pelbagai bidang ilmu pengetahuan.
Bermula dari tarikh tersebut, ramai umat Islam yang berduyun-duyun ke kawasan tersebut. Masjid itu dinamakan Jami’ al-Azhar. (jannah)

جامع و جامعة أصالة و حداثة

يعود إنشاء الجامع الأزهر إلى العهد الفاطمي، حيث وضع جوهر الصقلي حجر الأساس، بأمر من الخليفة المعز لدين الله الفاطمي، في 14 من رمضان سنة 359 هـ (971م )، وافتتح للصلاة لأول مرة في 7 من رمضان سنة 361 هـ. و سمي بالجامع الأزهر نسبة إلى فاطمة الزهراء رضي الله عنها و التي ينتسب إليها الفاطميون. وقد كان الغرض من إنشائه في بداية الأمر الدعوة إلى المذهب الشيعي، ثم لم يلبث أن أصبح جامعة، يتلقي فيها طلاب العلم مختلف العلوم الدينية والعقلية, ويرجع الفضل في إسباغ الصفة التعليمية علي الأزهر إلي الوزير يعقوب بن كلس ، حيث أشار علي الخليفة العزيز سنة 378 هـ بتحويله إلي معهد للدراسة، بعد أن كان مقصورا علي العبادات الدينية، و نشر الدعوة الشيعية. وقد أقيمت الدراسة فعليا بالجامع الأزهر في أواخر عهد المعز لدين الله الفاطمي، عندما جلس قاضي القضاة أبو الحسن بن النعمان المغربي سنة 365 هـ (أكتوبر 975م), في أول حلقة علمية تعليمية، ثم توالت حلقات العلم بعد ذلك. كانت حلقات التدريس هي طريقة وأساس الدراسة بالأزهر، حيث يجلس الأستاذ ليقرأ درسه أمام تلاميذه والمستمعين إليه الذين يتحلقون حوله، كذلك يجلس الفقهاء في المكان المخصص لهم من أروقة الجامع. ولا يتم الاعتراف بالأستاذ ليتولي التدريس إلا بعد أن يجيزه أساتذته ويستأذن من الخليفة. وقد تنوعت حلقات الدراسة بين الفقه، والحديث، والتفسير، واللغة، وغيرها من العلوم الشرعية. ورغم تعطل إقامة الخطبة في الجامع الأزهر حوالي مائة عام منذ عهد صلاح الدين وبداية الدولة الأيوبية, إلا أن هناك دلائل تشير إلي استمرار الدروس به علي فترات متقطعة. و يعود الفضل للسلطان المملوكي الظاهر بيبرس البندقداري في إعادة الخطبة إليه، حيث قام بتجديده وإعماره وفرشه مرة أخري، كما استجد به مقصورة حسنة. وسرعان ما استرد الأزهر مكانته بوصفه معهدا علميا ذو سمعة عالية في مصر و العالم الإسلامي. هذا: ويعد العصر المملوكي من العصور الزاهية للأزهر، حيث ذاع صيته، وأخذ مكانته كمركز تعليمي، وزوّد بالمكتبات والكتب النفيسة، إلي أن أصبحت مكتبته واحدة من أكبر وأعظم مكتبات الشرق والعالم، لما حوته من كنوز ونفائس. واستمر إعماره و تحسين نظمه وفرشه من قبل العديد من سلاطين المماليك, حتى أصبح المدرسة الأم بالقاهرة، والجامعة الإسلامية الكبرى التي لا ينافسها أي معهد آخر بالعالم الإسلامي أجمع. و لم يقتصر التدريس فيه علي العلوم الشرعية فقط، بل اشتمل أيضا علي علوم أخرى، مثل الفلك، والحساب، والطب، والعمارة، والجيولوجيا، والتاريخ، وبعض العلوم الاجتماعية، وغير ذلك من العلوم المختلفة, ومن أشهر العلماء الذين ارتبطت أسماؤهم بالأزهر: ابن خلدون، وابن حجر العسقلاني، والسخاوي، وابن تغري بردي، والقلقشندي، وغيرهم من العلماء. ورغم الخمول والجمود الذي حاق بالعلوم والفنون بمصر تحت نير الحكم العثماني إلا أن الأزهر ظل الملاذ الشامخ للعلم والمعرفة، وأصبح هو وشيوخه الملاذ الذي يلجأ إليه العامة من جور الحاكم، أو المساندة عند الشدة، إلي جانب ضلوعه بالتعليم، وإن اقتصر علي العلوم الشرعية فقط. و ليس هناك من دليل علي ما كان للأزهر من مكانة أكثر من موقفه من جور ولاة العهد العثماني، و تصدّره الثورات في فترة الحملة الفرنسية علي مصر، ووقوفه مع الشعب في اختيار محمد علي واليا على مصر. ففي هذه العقود الطويلة كان الجامع الأزهر بمعهده العلمي هو المصدر الوحيد لتحصيل العلوم، و تخريج موظفي ومعلمي الدولة في العالم الإسلامي. وفي العصر الحديث ومع النهضة التي بدأها محمد علي، لم يكن هناك إلا طلاب وخريجي الأزهر ليكونوا نواة للمعاهد التعليمية المختلفة، والتي أنشأت لتكون تعليما علي النمط الأوروبي الحديث، كما كانوا نواة البعثات التعليمية لأوروبا لنقل المعارف الحديثة. وترتب علي أعمال محمد علي قصور الأزهر واكتفائه بالعلوم الشرعية، وأصبح النظر إليه كمؤسسة دينية تقوم بتدريس العلوم الشرعية فقط. ومع نهاية القرن التاسع عشر وبداية القرن العشرين شهد الأزهر بداية إصلاح وتحديث، كان الغرض منه تحويل الأزهر لمؤسسة ذات كيان تعليمي يأخذ بالنظم الحديثة، وتزعم عدد من العلماء هذا الإصلاح، يتقدمهم الإمام محمد عبده, حيث شكل أول مجلس إدارة للأزهر في 6 من رجب سنة 1312 هـ. تلاه صدور القانون رقم 10 لسنة 1911، والذي نظم الدراسة وجعلها مراحل، ووضع نظاما للموظفين، و شروطا لقبول الطلاب، و حدودا للعقوبات، وكذا نظم الامتحانات، والشهادات, وأنشأ هيئة تشرف عليه تحت رئاسة مشيخة, تسمي مجلس الأزهر الأعلى, وأوجد هيئة كبار العلماء. واستمرارا لتطور الأزهر الشريف صدر القانون رقم 49 لسنة 1930، والذي أنشأت بمقتضاه الكليات الأزهرية الثلاث, و هي كليات أصول الدين، والشريعة، واللغة العربية، ونص القانون علي إمكانية التوسع فى إقامة كليات أخرى. كما أدخلت العلوم غير الشرعية بالمعاهد الأزهرية، مثل: الرياضيات، والعلوم، والدراسات الاجتماعية، لتأهيل الخريجين عند التحاقهم بالكليات الأزهرية المختلفة، ثم تلاه القانون رقم 26 لسنة 1936، حيث استحدثت مرحلة رابعة و هي الدراسات العليا، و أصبحت مراحله هي:

• القسم الابتدائي و مدته أربع سنوات.

• القسم الثانوي و مدته خمس سنوات .

• القسم العالي (الكليات) و مدته أربع سنوات و تمنح الكليات الثلاث الإجازة العالية.

• أما القسم الرابع و هو الدراسات العليا، و يمنح درجتين هما:

1. شهادة العالمية مع الإجازة في التدريس أو القضاء أو الدعوة و تعادل الماجستير.

2. شهادة العالمية مع لقب أستاذ، وتؤهل الحاصلين عليها للتدريس بالكليات الأزهرية وتعادل الدكتوراه. و توجت المسيرة بقانون سمي قانون التطوير، وصدر في 5 من يوليو سنة 1961 تحت رقم 103 بشأن إعادة تنظيم الأزهر، حيث اعتبر الأزهر “الهيئة العلمية الإسلامية الكبرى, التي تقوم علي حفظ التراث الإسلامي، ودراسته، وتجليته، و نشره”. و نص القانون علي وجود وكيل للأزهر إلي جانب شيخه، وجعل هيئات الأزهر مكونة من:

• المجلس الأعلي للأزهر: ويكون مسئولا عن التخطيط، ورسم السياسة العامة والتعليمية، واقتراح إنشاء كليات، وكل ما يحقق أغراض الأزهر.

• مجمع البحوث الإسلامية للبحث العميق والواسع في الفروع المختلفة للدراسات الإسلامية.

• جامعة الأزهر: وتختص بالتعليم العالي في الأزهر وبالبحوث التي تتصل بهذا التعليم.

• المعاهد الأزهرية: لإمداد جامعة الأزهر بخريجين علي قدر من الثقافة والمعرفة الإسلامية.

مما سبق نرى أن جامعة الأزهر قلعة من قلاع مصر والإسلام، حملت لواء المعرفة والعلم قرونا متصلة، وقامت بنشر العقيدة الصحيحة، ولم تبخل بعلمها على الأمة الإسلامية وخلال تلك المسيرة تسلحت بالعلم و المعرفة، و جعلت منه درعا لها و لأمة الإسلام. والآن وفي بداية القرن الحادي والعشرين وبعد أكثر من ألف عام علي إنشاء الأزهر، تقدم جامعة الأزهر الخدمات التعليمية لحوالي أربعمائة ألف طالب و طالبة، يمثلون حوالي خمس التعليم العالي بمصر, وتضم نخبة من الأساتذة والعلماء يصلون إلي حوالي أحد عشر ألف عضو هيئة تدريس ومعاوينهم ، يساندهم ما يقرب من ثلاثة عشر ألف موظف وموظفة. هذا: وتنتشر كليات الجامعة الاثنتان والستون بفروعها الخمس، وتخصصاتها التي تفوق أي جامعة أخرى, في ست عشرة محافظة من محافظات مصر، ويخدم طلابها حوالي أربع عشرة مدينة جامعية. وتأمل الجامعة أن تستمر في رسالتها، مطورةً أداءها، لتواكب مستجدات العصر الحديث، ولتحوذ المكانة التي تليق بتاريخها وأصالتها وعراقتها.

نبذه عن جامعة الأزهر

يعتبر الأزهر أقدم جامعة إسلامية عرفها العالم منذ القرن الرابع الهجرى (العاشر الميلادى ) و ما زالت تمارس دورها التعليمى و الفكرى و الثقافى حتى الآن . وكانت أساسا للنظم و التقاليد الجامعية التى عرفت بعد ذلك فى الشرق و الغرب وفى عام 1872 صدر أول قانون نظامى للأزهر رسم كيفية الحصول على الشهادة العالمية و حدد موادها , و كان هذا القانون خطوة عملية فى تنظيم الحياة الدراسية بالأزهر فى القرن التاسع عشر وفى عام 1930 صدر القانون رقم 49 الذى نظم الدراسة فى الأزهر ومعاهده وكلياته و نص على أن التعليم العالى بالأزهر يشمل كليات الشريعة و كلية أصول الدين وكلية اللغة العربية وفى 5 مايو 1961 صدر القانون رقم 103/1961 بتنظيم الأزهر والهيئات التى يشملها , وبمقتضى هذا القانون قامت فى رحاب الأزهر جامعته العلمية التى تضم عددا من الكليات العلمية لأول مرة مثل كليات : التجارة والطب والهندسة و الزراعة و كذلك فقد فتحت ابواب الدراسة بالجامعة للفتاه المسلمة بإنشاء كلية للبنات ضمت عند قيامها شعبا لدراسة الطب والتجارة والعلوم والدراسات العربية و الإسلامية و الدراسات الإنسانية و تتميز الكليات الحديثة و العلمية بجامعة الأزهر عن نظيراتها من الكليات الجامعية الأخرى باهتمامها بالدراسات الإسلامية إلى جانب الدراسات التخصصية

رؤساء جامعة الأزهر منذ صدور القانون رقم 103

الهيكل التنظيمى لرئاسة جامعة الأزهر

كليات جامعة الأزهر

تعتبر جامعة الأزهر من أعظم وأعرق الجامعات ومن أولى المؤسسات العلمية التى لها اثر بالغ فى نشر العلوم الدينية والشرعية بالإضافة إلى العلوم الدنيوية المتخصصة و تضم جامعة الأزهر الشريف عدد كبير من الكليات حيث يبلغ 62 كلية بالإضافة إلى 5 فروع فى قطاعات العلوم الثلاثة ( العلوم الإسلامية والنظرية والعملية ) كما ينتشر بها تقريبا جميع فروع المعرفة و التخصصات النادرة. كما إنها تقوم بتقديم الخدمات التعليمية لأكبر عدد من الطلبة على مستوى العالم العربى ككل بالإضافة إلى وفود أعداد كبيرة من الطلبة المسلمين من جميع أنحاء العالم لتلقى العلم ونشر تعاليم الدين الاسلامى السمح فى شتى دول العالم.

نشاط جامعة الأزهر في مجال تطوير التعليم

تميز اهتمام جامعة الأزهر خلال الفترة السابقة تحت رئاسة فضيلة الأستاذ الدكتور أحمد الطيب بتطوير الجامعة من جميع المجالات و خاصة جودة العملية التعليمية بها و حفلت السنة الماضية 2006-2007 بتسارع و إهتمام كبير. كان من نتيجتة قرار فضيلة الأستاذ الدكتور/ رئيس الجامعة رقم 71 لسنة 2007 بتشكيل لجنة تطوير التعليم بالجامعة برئاسة الأستاذ الدكتور عبدالدايم نصير نائب رئيس الجامعة للدراسات العليا و البحوث و تم موافقة فضيلتة علي زيادة أعضائة مؤخرا. تمثل النشاط الفعال للجامعة في مجالات التطوير بالعمل في أكثرمن أتجاة و مع أكثر من جهة لتعزيز التعاون و تحقيق الفائدة.

إزدياد نشاط وحدة نظم المعلومات و الشبكات و التي تقوم بدور مميز في تحديث الجامعة و تجهيزها بنظم الإتصالات الحديثة إلي جانب دورها في مكتب تنسيق الجامعة و تطويرة و إمدادة بكل التقنيات الحديثة والتي تواكب القرن العشرين . تم إنشاء وحدة نظم المعلومات والشبكات بقرار من فضيلة السيد الأستاذ الدكتور/ رئيس الجامعة في سبتمبر سنة2005 م لتقوم بتطوير نظم المعلومات وبناء شبكة معلومات بجامعة الأزهر وتحديث وسائل الاتصال والتعليم وتقديم خدمة مميزة لطلاب الجامعة .

قامت تلك الوحدة تحت الإشراف المباشر للسيد الأستاذ الدكتور/ عبدالدايم نصير ( نائب رئيس الجامعة للدراسات العليا والبحوث ) .

وتم تكليف الدكتور/ محمد عبدالعزيز عبدالرازق ( مدرس علوم الحاسب بكلية العلوم ) بإنشاء الوحدة وبناء الهيكل الإداري والفني بها .

وبفضل الله ثم برعاية من السيد الأستاذ الدكتور/ رئيس الجامعة والسيد الأستاذ الدكتور/ عبد الدايم نصير (نائب رئيس الجامعة للدراسات العليا والبحوث) أصبحت وحدة نظم المعلومات والشبكات من أفضل الوحدات علي مستوي الجامعة وذلك بتقديمها خدمات مميزة للعاملين بجامعة الأزهر .

فقد قامت الوحدة بالأتى :-

إنشاء شبكة المعلومات بجامعة الأزهر والتى تربط (42) كلية ومنشأة بحرم الجامعة بمدينة نصر وربطها بشبكة المعلومات الدولية مما أتاح لأعضاء هيئة التدريس الاتصال بالعالم وتبادل المعلومات .

تصميم وتنفيذ وبرمجة نظام التنسيق الإلكتروني الذي أدى إلى بناء البنية الأساسية لقاعدة بيانات ذات جودة عالية لجميع طلاب الجامعة وتوزيعهم على الكليات المختلفة وقد تم استخدام هذا النظام عامي 2006/2007 بنجاح .

إنشاء بوابة جامعة الأزهر على الانترنت وهى البوابة الأولى الرسمية لجامعة الأزهر ومن خلالها يتم عرض جميع أخبار الجامعة وشئون الجامعة وكيفية التعرف على العملية التعليمية بها .

الإشراف الفني والتنفيذي على إنتاج مشروع الإدارة الإلكترونية بالجامعة مما سوف يتيح سهولة تقديم الطلبات ومتابعتها وإدارة مجلس جامعة الأزهر عن بعد .

الإشراف على المرحلة الثانية لربط كليات ومنشآت جامعة الأزهر في 65 موقع فى جميع انحاء جمهورية مصر العربية وذلك بالاشتراك مع وزارة الاتصالات وتكنولوجيا المعلومات .

1-قسم البرمجة وتطبيقات الويب.

2 -قسم الشبكات.

3- قسم التدريب والتسويق.

4- قسم التعليم الإلكتروني

5- التركيبات

6- قسم التصميمات والجرافيك.

• إستضافة الجامعة مؤتمر صندوق تطوير التعليم العالي و المعرض المصاحب له خلال شهر مارس 2007 تحت عنوان “تقييم التجربة و الرؤية المستقبلية و الذي شاركت فية جميع جامعات مصر بعرض انجازاتها في تطوير التعليم. و قد استقبلت الجامعة لفيف من قيادات التعليم العالي يتقدمهم معالي وزير التعليم العالي و الدولة للبحث العلمي و رؤساء و نواب الجامعات المصرية و عدد من قيادات التطوير بالجامعات المصرية لعرض و توضيح الإستفادة المقدمة من الصندوق للجامعات المصرية في مجالات التطوير المختلفة و التي لم تشترك أو تستفيد منها جامعة الأزهر في المرحلة الأولي.

• تم أيضا عقد خمس ورش عمل متخصصة بالتعاون مع صندوق مشروع تطوير التعليم كان اول منها ورشة لقاء بين قيادات وحدة التطوير بوزارة التعليم العالي مع السادة النواب و 36 عميد كلية و عضو هيئة تدريس. تلي ذلك 4 ورش عمل كان الغرض منها تدريب حوالي 90 عضو هيئة تدريس علي طريقة كتابة المقترحات التنافسية لتقديمها للصندوق أو جهات أخري مثل ال TEMPUS و تعريفهم بمجالات التطوير المختلفة و التي طبقت في الجامعات المصرية الأخري.

• و تفعيلا للإتفاقية الموقعة بين جامعة الأزهر و الحكومة البريطانية متمثلة في المجلس الثقافي البريطاني بالقاهرة و لتحقيق الفائدة المرجوة منها تم الإتفاق بين المجلس الثقافي البريطاني و الجامعة علي عدد من المجالا ت و الأ نشطة مثل تعليم اللغة الإنجليزية و نشر ثقافة الجودة و المساعدة في أن تقوم الجامعة بتطوير استراتيجيتها للخمس سنوات القادمة. و من هذا المنطلق تم إنجاز الأتي:

• إنشاء مركز لتعليم اللغة الإنجليزية بمجمع كليات جامعة الأزهر بالدراسة و جاري الأنتهاء من أعمال التشطيبات النهائية و الأتفاق علي بدأ الدراسة به خلال الفصل الدراسي الثاني من العام الجامعي 2007- 2008.

• تم عقد ثلاث دورات تدريبة بالمجلس الثقافي البريطاني لتدريب 53 عضو هيئة تدريس من 43 كلية من كليات الجامعة ممثليين للثلاث قطاعات (الأسلامية و الإنسانية والمعملية) في مجال جودة التعليم تحت عنوان ” نشر ثقافة الجودة بالتعليم العالي بمصر ” .

• تم الإتفاق بين لجنة تطوير التعليم و المجلس الثقافي البريطاني علي الإستعانة بالأستاذ الدكتور/ فتحي النادي أستاذ الإدارة و الموارد البشرية ليكون الخبير الاستراتيجي للجامعة يساعدها علي تطوير استراتيجيتها. و قد تم تجهيز حوالي 60 عضو هيئة تدريس من مختلف الكليات للمساعدة في وضع الخطة و تجهيزهم لتنفيذها و ذلك بتدريبهم علي عدد من المهارات المهمة و المختلفة مثل إدارة التغير و مهارات الأتصال و التقديم و إدارة الفريق و غيرها من المهارات. و قد خطت الجامعة خطوات كبير ومن المنتظر أن تنتهي من بلورة رؤيتها و إعادة صياغة الرسالة إن لزم الأمر و كذا تطوير خطتها الإستراتيجية للخمس سنوات القادمة 2008 – 2012.

الصفة الاسم
رئيسا أ.د/ عبدالدايم نصير
منسقا أ.د/ عبدالباسط بدرالدين زايد
عضوا أ.د/ السعيد عبدالعزيز عثمان
عضوا أ.د/ أحمد سالم الزيات
عضوا أ.د/ أسامة محمد أحمد العبد
عضوا أ.د/ عبدالله الحسيني
عضوا أ.د/ عفاف علي حسن النجار
عضوا أ.د/ الخشوعي الخشوعي محمد الخشوعي
عضوا أ.د/ محمد حسان محمد عوض
عضوا أ.د/ نبيلة أنور الشيخ
عضوا أ.د/ شريف صلاح الدين عبدالعزيز
عضوا أ.د/ أحمد عبدالمنعم عرابي
عضوا أ.د/ عثمان أسماعيل الجزار
عضوا د/ محمد عبدالعزيز عبدالرازق

One response to this post.

  1. ini adalah satu lagi yang kita perlu tahu..
    sepatutnya… semua anak azhar pasti tahu…
    terimakasih
    …. kepada ampunya blog ni …
    kalu boleh … tulis ringkasan di sini … lepastu baru buat link pada webs asal..
    kalu boleh macamtu .. lagi bagus…
    alfu syukron..

    ตอบกลับ

ใส่ความเห็น

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Connecting to %s

%d bloggers like this: