Taman Ulama

SIRAH TOKOH ULAMA ISLAM

Syeikh Muhammad Al-Ghazali; Da’i dan Ulama Kontemporer

24/6/2009 | 1 Rajab 1430 H | 1,820 views

Oleh: Al-Ikhwan.net


Kirim Print

mohammad_al_ghazalyUstadz Muhammad Al-Ghazali adalah seorang dai brilliant, memiliki semangat menggelora, keimanan mendalam, perasaan lembut, tekad membaja, lincah, ungkapan-ungkapan mensastra, terkesan, mengesankan, supel dan pemurah. Ini semua diketahui setiap orang yang pernah hidup bersamanya, menyertai dan bertemu dengannya.

Ia tidak suka memaksakan diri (takalluf), benci kesombongan dan sikap sok tahu, aktif mengikuti perkembangan sosial dengan segala persoalannya, ikut menyelesaikan problematika umat, mengungkap hakikat, dan mengingatkan umat tentang bencana yang ditimbulkan syaitan-syaitan manusia dan jin; baik dari Barat maupun dari Timur.

Beliau juga selalu memberi semangat kepada umat Islam untuk berjuang di jalan Allah, dan membela kaum lemah, menyadarkan mereka perihal konspirasi musuh-musuh Islam di dalam dan luar negeri, mengungkap rencana-rencana busuk mereka untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, membongkar kebusukan Komunisme, Sekularisme, Freemasonry, Atheisme, Eksistensisme, Salibisme, dan Zionisme. Ia senantiasa mengingatkan umat tentang persekongkolan kekuatan-kekuatan jahat untuk melawan Islam dan dainya, serta menjelaskan cara melawan serangan kekuatan kufur.

“Syeikh Muhammad Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Islam abad modern. Ia adalah dai yang sulit ditemukan tandingannya di dunia Islam saat ini. Ia jenius dan keindahan katanya menawan hati, hingga saya dapat menghafal beberapa ungkapan, bahkan beberapa lembar tulisannya, lalu mengulang teks aslinya di beberapa ceramah”. Demikian komentar DR. Yusuf Al-Qardhawi di bukunya As-Syaikh Al-Ghazali kama Araftuhu (Syaikh Al-Ghazali yang saya kenal).

Syeikh Muhammad Al-Ghazali lahir pada tanggal 22 September 1917, di kampung Naklal Inab, Ital Al-barud, Buhairah, Mesir. Di dibesarkan di keluarga agamis yang sibuk di dunia perdagangan. Ayahnya hafizh Al-Qur’an. Lalu sang anak tumbuh mengikuti jejak ayahandanya dan hafal Al-Qur’an semenjak usia sepuluh tahun.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali menerima ilmu dari guru-guru di kampungnya. Ia masuk sekolah agama di Iskandariah dan menamatkan tingkat dasar hingga menengah atas (SMU). Kemudian pindah ke Kairo untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin dan mendapat ijazah pada tahun 1361/1943 M. ia mengambil spesialisasi dakwah wal Irsyad dan mendapat gelar Megister tahun 1362/1943. Para guru yang paling berpengaruh padanya saat studi ialah Syaikh Abdul Aziz Bilal, Syaikh Ibrahim Al-Gharbawi, Syaikh Abdul Azhim Az-Zarqani dan lain-lain.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali menikah saat masih kuliah di fakultas Ushuluddin dan dikaruniai sembilan orang anak.

Aktivitas syeikh Muhammad Al-Ghazali

Setelah menyelesaikan studi, syeikh Muhammad Al-Ghazali menjadi imam dan khatib di masjid Al-Atabah Al-Khadra. Setelah itu ia mendapat banyak jabatan yang secara berurutan sebagai berikut; dewan pengawas masjid, dewan penasihat Al-Azhar, wakil dewan urusan masjid, direktur urusan masjid, direktur pelatihan, direktur dakwah wal irsyad.

Tahun 1949 syaikh Muhammad Al-Ghazali mendekam di penjara Ath-Thur selama satu tahun dan penjara Tharah tahun 1965 selama beberapa waktu.

Syeikh Muhammad Al-Ghazali menjadi dosen tamu di universitas Ummul Qura, Mekah Al-Mukarramah tahun 1971. Tahun 1981 ia ditunjuk sebagai wakil menteri, kemudian memegang jabatan ketua dewan keilmuan universitas Al-Amir Abdul Qadir Al-Jazairi Al-Islamiyah.

Awal perkenalan syeikh Muhammad Al-Ghazali dengan imam Hasan Al-Banna

Awal interaksi syeikh Muhammad Al-Ghazali dengan imam Syahid Hasan Al-Banna dikisahkan oleh ustadz Muhammad Majdzub di bukunya ulama wa mufakkirun araftuhum. Ustadz madzub mengutip ucapan Al-Ghazali: “…perkenalan itu bermula saat saya belajar di sekolah menengah (SMU) Iskandariah. Saat itu, saya punya kebiasaan menetap di Masjid Abdurrahman bin Harmuz, daerah Ra’sut tiin selepas shalat Maghrib, untuk mengulang pelajaran. Pada suatu sore, imam Al-Banna menyampaikan nasihat singkat tentang penjelasan:  “Bertaqwalah kepada Allah dimana saja ikutilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik, tentu yang baik akan menghapusnya..” kata-katanya sangat berkesan dan langsung menembus ke hati yang paling dalam. Setelah mendengar nasihat itu, hatiku tertambat kepadanya. Saya tertarik kepada sosok dan pribadinya. Sejak itu, hubunganku dengannya terjalin erat. Saya senantiasa bersamanya selepas shalat Isya, di majelis yang terdiri dari tokoh-tokoh dakwah. Selanjutnya, saya meneruskan aktivitas dalam perjuangan Islam bersama dai besar ini, hingga ia syahid tahun 1949.

Pada mukadimah buku dusturul wihdah ats-tsaqafiyah lil muslimin, Muhammad Al-Ghazali berkata:”Inspirasi dan tema buku ini berasal dari Imam Hasan Al-Banna; pembaharu abad XIV hijriyah. Ia telah meletakkan prinsip yang dapat menyatukan umat, memperjelas tujuan yang samar, mengembalikan kaum muslimin kepada Al-Qur’an dan As-sunnah, serta menyingkirkan penyimpangan dan sikap santai, dengan halus dan cermat, sehingga kelemahan dan kemalasan tidak terjadi”.

Tentang mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin, ustadz Hasan Al-Hudaibi, Muhammad Al-Ghazali menyatakan: “..Sebenarnya ia tidak pernah berupaya untuk memimpin Ikhwanul Muslimi, tetapi ikhwanlah yang minta ia menjadi  pimpinan. Ketegasan dan ketegarannya berhak untuk diketahui semua orang. Ia tidak pernah berkeluh kesah atau mundur karena musibah atau ujian. Sampai usia senja ia tetap memiliki keimanan mendalam dan optimisme tinggi. Tidaklah salah bila dikatakan bahwa kesabaran yang mengokohkan imannya itu menjadikannya lebih mulia dalam pandangan saya. Musibah yang menimpa diri dan keluarganya secara bertubi-tubi tidak mengikis sifat jujurnya dalam menghukumi masalah. Bahkan, tidak membuatnya surut dari manhaj jamaah Islamiyah, malah sebaliknya. Saya menemuinya setelah berbagai musibah berlalu untuk memperbaiki hubungan dengannya”.

Komentar orang tentang syeikh Muhammad Al-Ghazali

Satu hal yang membanggakan syeikh Muhammad Al-Ghazali ialah saat menerima surat dari imam Al-Banna, padahal ia masih muda belia tahun 1945. Surat imam Al-Banna berbunyi:  

“Saudaraku yang mulia, syeikh Muhammad Al-Ghazali…

Assalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sudah membaca makalah Anda yang bertema Al-Ikhwanul Muslimin wal Ahzab di edisi akhir majalah Ikhwanul muslimin. Saya sangat kagum dengan ungkapan makalah tersebut yang ringkas, maknanya yang cermat, dan adabnya yang sopan. Seperti inilah hendaknya kalian menulis, wahai Ikhwan! Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah Ta’ala selalu bersamamu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hasan Al-Banna.

DR. Abdus Shabur Syahin berkata: “Yang saya tulis ini adalah penghormatan bagiku, sebelum menjadi pengantar buku. Sebab, buku yang disampulnya tertulis nama ustadz Muhammad Al-Ghazali tidak lagi membutuhkan pengantar. Menurutku, ia meraih mahkota ilmu yang melimpah. Dunia telah membaca bukunya tentang Islam dan dakwah. Juga menerima karya yang belum pernah diterima dari seorangpun yang sezaman dengannya. Kita dapat mengatakan, zaman kita sekarang ini milik ustadz Muhammad Al-Ghazali.

Syeikh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud mengakui kemuliaan dan membanggakan syeikh Muhammad Al-Ghazali dengan mengatakan: “Kita punya Muhammad Al-Ghazali yang masih hidup dan Muhammad Al-Ghazali penyusun kitab Al-Ihya”. (Yakni Muhammad Al-Ghazali dan Imam Al-Ghazali penyusun kitab Ihya Ulumuddin).

Aktivis muda Islam memperoleh manfaat dari ilmu, keberanian, keterusterangan, kejujuran dan kejelasan sikap syeikh Muhammad Al-Ghazali.

Ia punya kader di Al-Azhar Mesir, Ummul Qura di Mekah Al-Mukarramah, Fakultas syariah di Qatar, Universitas Al-Amir Abdul Qadir lil ulum Al-Islamiyah Al-Jazair, dan kader lain yang terbina melalui khutbah, kajian, ceramah, seminar, buku, makalah, pertemuan dan muktamar.

Kader syeikh Muhammad Al-Ghazali yang mencapai ribuan di penjuru dunia Islam setia pada dakwah Islam, mengibarkan bendera Islam bersama syeikh mereka dan menyebar ke berbagai penjuru untuk menyampaikan ajaran Islam, menuntun umat kepada kebaikan, keberuntungan dan kemenangan.

Di antara murid Muhammad Al-Ghazali ada yang menjadi ulama besar, antara lain Prof. DR. Yusuf Al-Qardhawi, syeikh Manna Al-Qattan, DR. Ahmad Assal dan lain-lainnya.

Karya-karya ilmiah syeikh Muhammad Al-Ghazali

Syeikh Muhammad Al-Ghazali mewariskan enam puluh buku lebih dalam berbagai tema, plus ceramah, seminar, khutbah, nasihat, kajian dan dialog yang disampaikan di Mesir maupun di luar Mesir. Khutbah yang ia sampaikan di jami’ Al-Azhar, Amr bin Al-Ash, dan khutbah Ied di lapangan Abidin serta jami’ Mahmud punya arti dan pengaruh sangat besar, sebab dihadiri ribuan pendengar.

Diantara buah karya beliau adalah:

• Minhuna na’lam

• Al-Islam wal istibdadus siyasi

• Aqidatul muslim

• Fiqhus sirah

• Khuluqul muslim

• Laisa minal Islam.  Dan lain-lainnya….

Sebagian besar buku-buku beliau telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain: bahasa Inggris, Turki, Perancis, Urdu, Indonesia dan lain sebagainya.

Mayoritas penerjemah adalah murid-murid syeikh Muhammad Al-Ghazali, pengagum dan orang-orang yang mendapat manfaat dari curahan ilmunya.

Sifat-sifat syeikh Muhammad Al-Ghazali

DR. Yusuf Al-Qardhawi berkata: “Mungkin Anda berbeda pandangan dengan Al-Ghazali, atau ia berbeda pendapat dengan Anda dalam masalah-masalah kecil maupun besar, sedikit atau banyak masalah. Tapi, apabila Anda mengenalnya dengan baik, Anda pasti mencintai dan menghormatinya. Karena Anda tahu keikhlasan dan ketundukannya kepada kebenaran, keistiqamahan orientasi dan ghirah nya yang murni untuk Islam.

Memang, Muhammad Al-Ghazali temperamental. Kemarahannya meluap seperti ombak lautan yang menghanyutkan, atau seperti letusan gunung berapi yang meluluhlantakkan. Ia seperti itu karena benci kezhaliman dan kehinaan, baik pada dirinya atau orang lain, tidak suka berlaku zhalim atau dizhalimi, anti merendahkan kehormatan siapa pun dan direndahkan siapa pun, serta tidak menyukai penyimpangan, terutama bila berkedok agama. Ia akan memerangi itu semua dengan sembunyi maupun terang-terangan. Ia berani saat menyerang hal-hal yang diyakininya keliru dan pemberani saat mengakui kekeliruannya.

Pulang ke Rahmatullah

Syeikh Muhammad Al-Ghazali wafat di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 9 Maret 1996. Jenazahnya dipindah ke Madinah Al-Munawarah untuk di makamkan di Al-Baqi’. Yang mulia Amir Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud memiliki peran penting dalam memberikan penghargaan kepada Al-Ghazali, baik saat masih hidup maupun setelah meninggal. Juga memberikan bantuan kepada keluarganya.

Semoga Allah ta’ala merahmati syeikh Muhammad Al-Ghazali, memberi balasan yang baik karena jasa-jasanya kepada kaum muslimin. Semoga Allah mengumpulkan kita dan dia bersama para nabi, shiddiqin dan para syuhada dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik teman.

Ahmad Yasin: Legenda Ciptakan Kelemahan Jadi Kekuatan Bagi Hamas

24/3/2009 | 28 Rabbi al-Awwal 1430 H | 2,737 views

Oleh: Al-Ikhwan.net


Kirim Print

yasin_1_300_0Gaza – Infopalestina:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (Al-Ahzab:23)

Pembunuhan terhadap Syekh Ahmad Yasin lima tahun lalu bukan peristiwa sepintas lalu. Peristiwa itu menjadi pusat perenungan bagi seluruh pejuang kebebasan di dunia dan mengingatkan bangsa Arab dan umat Islam akan bahaya hakiki Israel di Palestina.

Gugurnya Syeikh Ahmad Yasin meningkatkan dukungan besar kepada gerakan HAMAS bukan hanya di Palestina. Bahkan dukungan bangsa Arab dan Islam semuanya. Sejak saat itu semua orang bertanya tentang HAMAS, gerakan yang mengguncang bangunan Israel, gerakan ini mulai menyebar secara drastis hingga mayoritas Palestina berafiliasi kepadanya. Jika tidak afiliasi maka mereka mendukungnya atau simpati kepada gerakan perlawanan dan ketegaran memperjuangkan prinsip-prinsip dasar Palestina dan menolak perundingan damai dengan Israel.

Gugurnya Syeikh Ahmad Yasin juga mengundang reaksi yang kebanyakan justru mengatakan bahwa darah beliau akan menjadi “bahan bakar baru” bagi perlawanan.

Syeikh Ahmad Yasin … Kelahiran dan pertumbuhan

Syeikh Ahmad Yassin lahir tahun 1936 di desa El-Gorah yang dibangun di reruntuhan kota Ashkelon yang bersejarah yang berada di Majdal Tengah ke arah utara dari Jalur Gaza sekitar dua puluh kilometer. Di tingkat SD beliau belajar di sekolah El Gorah sekolah dasar dan terus belajar sampai tingkat kelima. ” (88).

Sejak “nakbah” (malapetaka dahsyat) menimpa rakyat Palestina di tahun 1948 (dengan diproklamirkan berdirinya negara Israel) Ahmed Yasin terpaksa berhijrah bersama keluarganya ke Jalur Gaza dan menetap di kamp pengungsi Shati’ di pantai Jalur Gaza. Selama tinggal di permukiman, ia diputus dari studinya sampai tahun 1950 karena ia sibuk memberikan kontribusi keberlangsungan hidup keluarganya yang terdiri dari tujuh orang dengan bekerja di sebuah restoran di Gaza City (89).

Kemudian Syeikh melanjutkan studinya di sekolah kamp pengungsi dan menyelesaikan studinya di tingkat dasar dan persiapan tahun 1955, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Palestina yang merupakan sekolah paling bergensi di Jalur Gaza. Suasana politik di Jalur Gaza secara umum sedang bergejolak, terutama di sekolah tempatnya belajar. Pada saat itu kami bersama-sama di sekolah itu. Ia di kelas satu dan saya (penulis) di tingkat terakhir. Pada saat itu dikenal dengan Sekolah Menengah Umum – yang disebut taujihy.

Dunia Arab sedang bergejolak dengan aliran-aliran pemikiran, baik yang berhaluan nasionalis, kiri, dan Islam. Dan Gerakan Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan paling aktif di Jalur Gaza. Ia banyak didukung oleh pelajar, bahkan mereka yang berprestasi di kelas dan dipilih menjadi ketua-ketua aktifitas adalah mereka yang berafiliasi kepada gerakan Islam. (90)

Di gerakan Ikhwanul Muslimin, Ahmad Yasin menemunkan apa yang dia cari. Dakwahnya sesuai dengan keinginannya, baik dari sisi pemikiran agamanya (ideology), atau dalam hal pandangan politik, dan methodologi pendidikan untuk menyiapkan generasi pembebas Palestina, menyelematkan Al-Aqsha yang penuh berkah dari tangan para penjajah. Sang murid Ahmad Yasin melihat itu semua dan memberikan baiatnya kepada gerakan Islam ini tahun 1955. (99)

Ia mengajar bahasa Arab dan tarbiyah islamiah. Ia juga seorang penceramah di masjid-masjid Gaza, bahkan paling popular di sana karena hujjah. Ia juga dipilih menjadi Majmah Islami di Gaza.

Beliau ditangkap oleh Zionis Israel tahun 1984 karena latar belakang mereka menemukan rumahnya sebagai gudang senjata yang dibeli oleh Syeikh dari seorang agen Israel.

Ia pernah divonis penjara 13 tahun, kemudian keluar dalam proses pertukaran tawanan Tahun 1985. 17 November 1987 gerakan Islam di bawah kepemimpinannya mengeluarkan keputusan untuk “memulai aksi militer melawan entitas penjajah Zionis. Dan pada tanggal  8 Desember 1987 meletus aksi Intifadha dengan arahan Syeikh Yasin, dan sepekan setelah itu dideklarasikan Gerakan Perlawanan Islam “HAMAS”, dan pernyataan resmi pertamanya dikeluarkan 14 Desember 1987 M. Sementara  pernyataan resmi pertama gerakan Fatah dan Front Rakyat dan organisasi lainnya pada 8 Januari 1988 atau satu bulan setelah mulainya intifadha.

Intensitas aksi serangan dan mogok massal yang dilakukan dan digalang HAMAS terhadap Zionis Israel semakin keras. Mereka kemudian menangkap Syeikh dan sebagian besar pimpinan HAMAS dan Ikhwanul Muslimin malam tanggal 18 Mei 1989 M. Mendekam di penjara sampai 25 September 1997 M dalam sebuah negoisasi pertukaran tawanan oleh Raja Husein dengan Israel setelah percobaan pembunuhan terhadap saudara Khalid Misy’al Kepala Maktab Siyasi HAMAS.

Syahid mengenang syahid

Dr. Asy-Syahid Abdul Aziz ar-Rantisi mengatakan, Syeikh Ahmad Yasin adalah simbol Islam yang besar ketika hidup. Dengan gugurnya, ia menjadi guru unik dan paling menonjol dalam sejarah umat yang besar. Tidak ada sejarah seperti yang diukur Syeikh Yasin, dimana pemimpin yang lemah (karena cacat fisik) mampu mengubah menjadi kekuatan. Ia adalah pemimpin yang tidak pernah percaya dengan kelemahan mutlak seharipun bagi manusia atau dengan kekuatan mutlak selama ia masih bernama makhluk”.

Rantisi yang gugur syahid sebulan setelahnya menegaskan bahwa Syeikh Yasin lah yang mengusung rakyat Palestina yang tidak berdaya untuk melawan Israel dengan batu dan pisau, kemudian dengan bom, kemudian dengan roket-roket Al-Qassam. Syeikh Yasin telah menciptakan dari kelemahan rakyat menjadi kekuatan yang kini tidak bisa diremehkan Israel dan Amerika. Akibatnya, poros teroris ini mulai merasa risau dengan kekuatan yang pernah dibuat oleh Syeikh Yasin.

Asy-syahid Rantisi menegaskan bahwa Israel salah ketika membunuh Syeikh Ahmad Yasin sebab Israel tidak pernah belajar dari masa lalu. Mereka membunuhi para nabi namun mereka gagal memadamkan cahaya yang mereka bawa. Israel tidak akan bisa mematikan cahaya dari jasad Syeikh Ahmad Yasin. Bahkan peristiwa pembunuhan ini akan memindahkan konflik kepada fase yang lebih maju.

Darah Syekh Yasin; pesan untuk bersatu

Sementara Khalid Misy’al, ketua Maktab Siyasi HAMAS menegaskan bahwa darah Syeikh Ahmad Yasin memberikan pesan untuk bersatu dan merapikan barisan. Ia menyatakan, para pejuang Palestina sudah memberikan ruh mereka untuk Allah, kemudian untuk membebaskan Palestina. Gugurnya Syeikh Ahmad Yasin akan semakin menjadikan gerakan perlawanan semakin kuat.

Ia menegaskan bahwa Israel harus tahu bahwa upaya mereka untuk mematahkan semangat rakyat Palestina akan gagal. Tindakan Israel membunuh Syeikh Ahmad Yasin menegaskan bahwa mereka hanya berfikir bagaimana melakukan kejahatan. Karenanya, Khalid Misy’al menyerukan agar rakyat Palestina bersatu di belakang perlawanan Palestina.

Hamas terus melawan

Sementara itu, Mahmod Zehar menegaskan bahwa kejahatan pembunuhan Syekh Ahmad Yasin sebelumnya sudah diprediksi. Namun itu tidak akan menyimpangkan HAMAS dan pimpinannya dari program perlawanan terhadap Israel. ia menegaskan bahwa Israel menegaskan Syeikh Yasin layak mati karena keberadaannya mengancam eksistensi mereka di kawasan. “Namun kami mengatakan bahwa Syeikh syahid di sisi Allah, ia hidup dan mendapatkan rizqi, yang mati adalah Israel dan para pemimpinnya yang melakukan kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat Palestina,” tegas Zehar.

Darah Yasin tak akan lemahkan perlawanan

Sementara itu, Dr. Yusuf Al-Qardlawi menegaskan bahwa Darah Yasin tak akan tumpah percuma. Bahkan ia akan menjadi api dan laknat bagi Israel. Kesyahidan Syeikh Yasin tidak akan melemahkan perlawanan seperti yang dibayangkan Israel.

Ia menegaskan bahwa pembunuhan Syekh Ahmad Yasin adalah kejahatan penjajah Israel. dan Amerika ikut bertanggungjawab atas kejahatan itu. sebab Israel melakukan kejahatan dengan senjata Amerika, dana, dan dukungan mereka.

Karenanya, menurut Qardawi, Arab harus sadar dari ‘teler’ mereka dan keluar dari gua tempat tidur panjang mereka untuk menunaikan amanah terhadap saudara-saudara mereka. (bn-bsyr)

Rijalud Dakwah (Generasi Dakwah)

6/11/2009 | 18 Dhul-Qadah 1430 H | 1,409 views

Oleh: Al-Ikhwan.net


Kirim Print

hasan al-bannaJika kita membicarakan salah satu tokoh diantara tokoh ummat yang pernah hidup dalam perjalanan sejarah, kita akan menemukan persamaan antara tokoh yang satu dengan tokoh lainnya. Persamaan itu dapat kit ambil titik temunya, mereka adalah orang-orang yang memiliki:  Quwwatur-ruh, dan Quwwatul qalb.

Dengan kekuatan ini, kuat pula segala hal lain yang mereka miliki.

Benar apa yang diungkapkan oleh Bisyr Al Khothib yang dikutip oleh Syekh Ahmad Rasyid dalam kitabnya, katanya: “Cukuplah bagimu, engkau melihat orang-orang yang telah mati yang ketika sejarah hidupnya dipelajari hati menjadi hidup, sebagaimana ada pula manusia-manusia yang hidup diantara kita yang dengan melihatnya hati kita menjadi mati”.

Rasulullah saw pernah bersabda dalam sebuah hadits shahih yang banyak dikutip dalam buku-buku sirah, ketika para sahabat menceritakan kepribadian Umar ra, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّاب

“Sesungguhnya pada setiap ummat ada orang yang mendapatkan ilham (muhaddits). Sesungguhnya jika di dalam ummatku ada muhaddits, maka dia adalah Umar”. (Ahmad dan Bukhari)

Jika kita membaca sejarah hidup Umar ra, kita akan menemukan bahwa beliau adalah orang yang memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah ilham yang dimilikinya. Suatu ketika, saat beliau berdiri di mimbarnya, Allah memperlihatkan kepadanya perjalanan pertempuran antara Sariyyah dan Romawi, dari jarak ratusan, bahkan ribuan mil, Umar memerintahkan: “Wahai Sariyyah, berlindunglah ke balik gunung, berlindunglah ke gunung”. Para sahabat yang mendengar kebingungan, tapi diantara mereka tidak ada yang berprasangka bukan-bukan terhadap Umar. Ketika Sariyyah pulang dari pertempuran dengan membawa kemenangan, mereka bertanya: “Apakah kalian mendengar seruan Umar?”. Kata Sariyyah: “Kami mendengar dan kami mentaatinya”.

Dalam kesempatan lain, dalam kesendiriannya, Umar berkata: “Barang siapa dari keturunanku nanti memiliki luka di wajahnya, dia akan meramaikan dunia dengan keadilannya”. Ketika Umar bin Abdul Aziz lahir, di wajahnya tidak ada luka. Tapi ketika ia masih kecil, dia pernah terluka di wajahnya ketika sedang bermain-main. Ini sekaligus sebagai bukti kebenaran Ilham Umar ra.

Ketika Abdul Aziz bin Marwan (Bapaknya Umar bin Abdul Aziz) melihat hal itu, ia mengatakan: “Kalau engkau adalah orang yang diungkapkan oleh kakekmu dulu, engkaulah pemakmur dunia ini dengan keadilan”. Kebenaran ini terbukti kemudian.

Tahun 99 H, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah. Meskipun ia hanya menjabat sebagai khalifah selama dua tahun lima bulan, namun hasil kekhalifahannya terlihat jelas.

Dalam kitab Hayatush-Shahabah disebutkan, ketika Umar menjadi khalifah, adalah seorang pemuda yang menjadi rakyatnya yang setiap shalat digoda oleh wanita cantik untuk berbuat serong. Lama kelamaan ia tergoda dan melakukan perbuatan serong. Ia menyesal dan kemudian meninggal. Ketika Umar tidak melihat pemuda ini dalam jama’ah shalat, bertanyalah Umar tentang pemuda ini. Diceritakanlah kisah tentang pemuda itu. Karena kematiannya berada di tempat orang yang hanya pemuda itu dan si wanita, segeralah pemuda itu dikuburkan tanpa memberitahu orang lain. Ketika Umar ra mengetahui, ia bertanya: “Mengapa kalian lakukan yang demikian?”. Kemudian Umar ra ingin bicara langsung dengan pemuda itu. Umar ra kemudian mendatangi kuburan pemuda itu.

Dalam sejarah kita menemukan pula kejadian serupa dalam diri imam Syafi’i. Beliau adalah orang yang mendapatkan ilham. Muridnya yang empat: Ar-Rabi’ bin Sulaiman, Al Buwaithi, Al Muzani dan Ibnu Abdil Hakam, sebelum meninggal mengungkapkan kepada murid-muridnya tersebut, kamu akan menjadi ini, kamu akan menjadi ini dan sebagainya. Semua ucapan imam Syafi’i ini kemudian terbukti kebenarannya.

Pada dasa warsa ini, salah satu tokoh yang insya Allah mendapatkan ilham adalah asy-syahid imam Hasan Al Banna rahimahullah.

Kalau kita membaca buku Ikhwanul Muslimin; Ahdats Shana’at-Tarikh, kiat akan melihat bahwa perjalanan awal asy-syahid Sayiid Qutub, kelasnya selevel dengan “Nurcholis group”. Saat itu di Mesir terbit majalah sastra yang menjadi ajang pertemuan 20 sastrawan. Salah satu kubunya adalah para tokoh aliran sastra bebas yang dikomandani oleh Abbas Mahmud Al Aqqad, dan kubu lainnya adalah sastrawan muslim yang dikomandani oleh Musthofa Shadiq Ar-Rafi’i.

Sayyid Qutub adalah murid pilihan Al Aqqad. Ketika Musthofa meninggal, Al Aqqad naik, karena tidak ada saingan, murid-muridnya diberi rangsangan untuk menulis.

Dalam sebuah surat kabar mingguan, Sayyid Qutub menulis makalah di mana dia menyerukan kepada para wanita muslimah untuk membuka auratnya, karena menutup aurat dianggap olehnya sebagai penghambat kemajuan wanita.
Tulisan ini dibaca oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud dan beliau membuat tanggapan. Tapi sebelum tanggapan ini dimuat di media massa, Ustadz Abdul Halim mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Imam Al Banna. Kata Imam Al Banna: “Saya menyetujui 100 % tulisan kamu, tapi saya memiliki perasaan lain tentang orang ini, berilah beberapa pertimbangan:

Pertama: Dia masih muda, dan apa yang ditulisnya bukanlah dari otaknya sendiri, tapi dari lingkungannya.

Kedua: Anak muda biasanya menyenangi sensasi dan mencari musuh, apa yang dilakukan Sayyid Qutub oleh Imam Al Banna dinilai sebagai upaya mencari eksistensi diri.

Ketiga: karena dia masih muda, kita masih memiliki harapan, siapa tahu dia akan menjadi pemikul beban da’wah.

Pertimbangan yang lain, kata Imam Al Banna, dia (Sayyid) menulis di surat kabar yang tidak terlalu terkenal di Mesir ini. Kalaupun dikenal, makalah atau kolom, umumnya tidak terlalu menarik perhatian orang banyak untuk membacanya, apalagi kalau ditulis oleh seorang pemula yang belum memiliki nama. Kalau kita menanggapinya, orang-orang yang semula tidak tahu menjadi ingin mengetahuinya, dan orang-orang yang mungkin pernah membaca secara selintas akan mengulang kembali membacanya untuk mengenali muatan tulisan tersebut. Tujuan anak muda ini menulis adalah untuk mendapatkan serangan atau tantangan dari khayalak yang dengan serangan itu akan menaikkan dan mengangkat namanya. Imam Al Banna berkata lagi: “Kalau kita bantah tulisan itu, kita berarti menutup kesempatan diri pemuda itu untuk bertobat karena orang cenderung untuk membela diri jika kesalahannya diluruskan, apalagi bila pelurusan itu dilakukan di depan umum, ia akan membela dirinya mati-matian, meskipun dalam hati kecilnya ia menyadari kesalahan atau kekeliruannya. Dengan demikian, kalau tanggapan itu kita lakukan, berarti kita telah menutup kesempatan bertaubat bagi dirinya”.

Akhirnya Imam Al Banna mengatakan: “Wahai Mahmud, inilah pandanganku tentang orang ini, akan tetapi, kalau engkau tetap ingin mengirimkannya, silahkan saja”.

Ustadz Mahmud setuju untuk meninjau kembali rencana pengiriman tulisan itu, sehingga akhirnya tulisan itu tidak jadi dikirim.

Dan pada akhirnya, terbuktilah kebenaran perasaan Imam Al Banna, sebab pada akhir perjalanan hidupnya, Sayyid Qutub menjadi penopang dan pemikul beban da’wah dan iapun bergabung dengan jama’ah ini.

Hal itu merupakan bagian dari firasat seorang mukmin yang dimiliki oleh Imam Al Banna.

Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti perjalanan beliau sejak kecil hingga beliau meninggalkan dunia yang fana ini.

Imam Al Banna dilahirkan sama dengan tahun dilahirkannya Sukarno, yaitu tahun 1906 M, di suatu wilayah yang bernama Al Mahmudiyah. Beliau dilahirkan dari keluarga yang gemar kepada ilmu. Ayahnya seorang ulama yang bernama Asy-Syekh Ahmad bin Abdur-Rahman As-Sa’ati, seorang tukang jam. Meskipun seorang tukang servis jam, namun beliau juga seorang ulama. Diantara karya besarnya adalah menertibkan kitab hadits musnad Imam Ahmad sesuai dengan urutan tema fiqih, kitab itu diberi nama Al Fathu Ar-Rabbani fi Tartibi Musnadil Imami Ahmad Asy-Syaibani.

Ketika kecil beliau mendapatkan pendidikan di Madrasah Ar-Rosyad Ad-Diniyyah yang diasuh oleh Asy-Syekh Az-Zahroni. Disekolah SD itulah beliau menghafal Al Qur’an sebanyak setengah Al Qur’an atau kurang lebih 15 juz. Rupanya sekolah ini tidak lama umurnya, karena Asy-Syekh Az-Zahrani ditarik oleh departemen pendidikan di sana, dan bubarlah sekolahan itu.

Beliau kemudian melanjutkan sekolahnya di Al I’dadiyyah. Disana beliau membagi waktunya menjadi empat bagian: belajar di pagi hari, kemudian sepulang sekolah beliau belajar memperbaiki jam hingga sore hari, dan di malam harinya beliau mempersiapkan diri untuk sekolah besok paginya, dan pagi harinya setelah shalat Shubuh, beliau menghafalkan Al Qur’an. Dengan kebiasaan inilah beliau hampir menamatkan hafalan Al Qur’annya.

Setelah tamat di Al I’dadiyyah, Hasan Al Banna kecil melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Al Mu’allimin Al-Awwaliyyah di Damanhur. Disana beliau tamat menghafalkan Al Qur’an. Madrasah Al Mu’allimin ini adalah sekolah yang di sini setingkat dengan SPG atau SMU. Setelah itu beliau mendapatkan dua peluang belajar, di Al Azhar atau di Darul ‘Ulum. Kalau melanjutkan di Darul ‘Ulum ia akan menjadi guru. Dan kalau di Al Azhar beliau bisa melanjutkan dan biasanya menjadi ulama besar. Namun beliau lebih memilih Ma’had Darul ‘Ulum program diploma tiga tahun. Lalu pindahlah beliau ke Kairo.

Pada masa mudanya –bahkan sejak masih duduk di bangku SD- Hasan Al Banna tertarik kepada salah satu tarekat yang memang tumbuh menjamur pada masa itu. Tarekat yang diminatinya bernama tarekat Al Hashafiyyah, yang didirikan oleh seorang ulama besar bernama Syekh Al Hasanain Al Hashafi, seorang tamatan Al Azhar.

Dalam buku yang ditulis oleh Imam Al Banna; Mudzakkiratud-Da’wahwah Wad-Da’wahiyah, disebutkan, tarekat yang didirikan oleh Syekh Al Hashafi berbeda dengan tarekat-tarekat lain yang ada pada masa itu. Syekh Al Hashafi selalu gemar menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Imam Al Banna bercerita tentang Syekh Al Hashafi, meskipun beliau belum pernah bertemu langsung dengannya. Kata beliau, pada saat berkunjung kepada Syekh Khudhari Bik, seorang penguasa Mesir, beliau menyampaikan salam yang kemudian dijawab oleh Hudhari Bik dengan isyarat. Dengan berang Al Hashofi mengatakan:

رَدُّ السَّلاَمِ وَاجِبٌ، وَلاَ يَكْفِي بِاْلإِشَارَةِ

Menjawab salam hukumnya wajib dan tidak cukup dengan isyarat.

Akhirnya Khudhari Bik malu sendiri dan menjawab:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kemudian ketika beliau diundang oleh seorang perdana menteri Mesir bersama ulama-ulama yang lain, beliau melihat ulama-ulama tersebut menundukkan kepala kepada perdana menteri karena mengikuti seorang ulama yang menundukkan kepalanya kepada sang perdana menteri itu. Ketika melihat hal itu syekh Al Hashafi memukul dan berkata kepada para ulama itu:

يَا هَذَا! اَلرُّكُوْعُ للهِ فَقَطْ، وَلاَ يَحِلُّ الرُّكُوْعُ لِلنَّاسِ!

Wahai orang ini! Ruku’ itu hanya untuk Allah semata, dan tidak halal ruku’ kepada manusia!

Inilah diantara kisah kepribadian Syekh Hasanain Al Hashafi yang membuat Hasan Al Banna tertarik kepadanya dan ingin berhubungan lebih jauh dengan tarekat yang didirikannya.

Beliau mengikuti tarekat Al Hashafiyah semasa dipimpin oleh putra Syekh Hasanain Al Hashafi, namanya syekh Abdul Wahhab bin Hasanain Al Hashafi.

Diceritakan oleh Imam Al Banna bahwa syekh Abdul Wahhab tidak sekeras dan setegas bapaknya. Namun beliau orang bersih, lurus dan dikenal sebagai ahli suluk, yaitu orang yang ibadahnya tidak diragukan lagi.

Beliau juga bisa dikatakan sebagai orang yang mulham.

Suatu ketika beliau bersama seorang sahabatnya yang bernama Ahmad Affandi As-Sakari bertemu dengan syekh Abdul Wahhab, beliau mengatakan kepada keduanya:

أَنَّنِيْ أَتَوَسَّمُ أَنَّ اللهَ سَيَجْمَعُ عَلَيْكُمُ الْقُلُوْبَ وَيَنْضَمُّ عَلَيْكُمْ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ، فَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَوْقَاتِ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ سَيَجْتَمِعُوْنَ عَلَيْكُمْ، أَفَدْتُمُوْهُمْ فِيْهَا، وَيَكُوْنُ لَهُمْ الثَّوَابُ، وَلَكُمْ مِثْلُهُمْ، أَمْ اِنْصَرَفَتْ هَبَاءً فَيُؤَاخَذُوْنَ وَتُؤَاخَذُوْنَ.

Aku melihat dari wajah kalian bahwa Allah swt akan menghimpun hati manusia kepada kalian dan Allah akan menyatukan mereka kepada kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah swt akan bertanya kepada kalian atas waktu mereka yang berkumpul kepada kalian itu, apakah kalian memberikan kepada mereka manfaat dan tentunya mereka akan mendapat pahala dan demikian pula kalian, atau waktu mereka itu hilang percuma, maka mereka akan dimintai pertanggung jawaban dan demikian pula kalian.

Inilah yang diungkapkan oleh Syekh Abdul Wahhab kepada Hasan Al Banna dan Ahmad Affandi As-Sakari.

Dari pengalamannya di tarekat inilah beliau mulai berorganisasi dengan membentuk satu organisasi yang diberi nama Jam’iyyah Al Khairiyyah Al Hashafiyyah. Dalam organisasi ini yang menjadi ketuanya adalah Ahmad Affandi As-Sakari –yang nantinya dalam jama’ah Ikhwanul Muslimin dia menjadi wakil- dan yang menjadi sekretarisnya adalah Hasan Al Banna.

Aktifitas organisasi ini ada dua:

1. Menyebarkan da’wah kepada akhlaq yang mulia dan memerangi berbagai kemunkaran dan hal-hal yang diharamkan dan tersebar luas di masyarakat, seperti: judi, minuman keras, dan bid’ah-bid’ah yang ada pada perayaan-perayaan.

2. Menghadapi propaganda missi Zending Kristen yang ada di Mesir pada waktu itu.

Dalam buku Mudzakkirotud-Da’wah Wad-Da’iyah Imam Al Banna menceritakan, beberapa kantor IM berdampingan dengan kantor-kantor missi kristenisasi.

Dan kita lihat pula dalam kitab fi qafilatil Ikhwan Al Muslimin yang ditulis oleh Ustadz Abbas As-Sisi, foto-foto yang ada dalam buku tersebut menggambarkan betapa jama’ah ini memiliki toleransi dengan orang-orang palangis itu. Hasan Al Hudhaibi, mursyid am kedua misalnya, dalam foto-foto itu bergambar berdampingan dengan pembesar Kristen Qibti. Hal itu menandakan bahwa jama’ah ini sejak pertama tidak melupakan peran sosialnya kepada orang Nasrani yang merupakan bagian dari ummat manusia.

Setelah beliau selesai dari Mu’allimin Al Awwaliyyah dan setelah beliau memilih Darul ‘Ulum sebagai sekolah kelanjutannya, beliau terpaksa harus berpisah dengan keluarga dan sahabat yang dicintainya. Disana, di Kairo, beliau hidup sendirian dan tidak mengandalkan kiriman wesel dari orang tuanya, beliau benar-benar mandiri. Karena kemandiriannya ini, beliau menjadi sangat sibuk, sampai-sampai ketika menjelang ujian masuk Darul ‘Ulum beliau tidak sempat belajar.

Dalam kitab Ahdats Shana’at-Tarikh Imam Al Banna bercerita: Di malam ujian itu beliau melakukan shalat tahajjud seperti biasanya, dan memohon serta mengadu kepada Allah swt. Dalam do’anya beliau berkata: “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu betapa rindunya diriku kepada ilmu dan betapa cintaku kepada-Mu, tapi Engkau juga tahu betapa sibuknya diriku dalam mencari ma’isyah untuk mempertahankan hidup di kota ini, berilah jalan keluar bagiku”.

Beliau akhirnya tertidur malam itu dan bermimpi kedatangan seseorang yang membawa buku dan membuka-buka buku itu dan dia turut membuka dan membacanya. Ketika ujian tiba, ternyata apa yang dia baca dalam mimpi itulah yang diujikan esok harinya.

Beliau lulus dan mendapatkan nilai istimewa. Ini juga salah satu tanda bahwa beliau termasuk seorang yang Muhaddats, Mulham karena kebersihan dan ketaqwaannya, insya Allah.

Beliau selanjutnya belajar di Darul ‘Ulum dengan lancar. Selain mencintai Al Qur’an dan As-Sunnah, beliau juga menyenangi syi’ir-syi’ir Arab. Setiap mendapatkan syi’ir beliau mencatatnya hingga buku-bukunya tentang syi’ir bertumpuk.

Ketika ujian kelulusan dari Darul ‘Ulum, saat tes lisan, beliau bawa buku-buku itu. Salah satu dari dua orang penguji bertanya tentang apa yang dihafalnya dari syi’ir-syi’ir itu. Dia menjawab: “Semuanya aku hafal”. Yang satunya lagi bertanya: “Bait mana yang paling engkau senangi dari syi’ir-syi’ir itu? Al Banna mengatakan: “Bait Syi’ir yang diucapkan oleh Thorfah bin Al ‘Abd, salah seorang penyair di zaman jahiliyyah.

إِذَا الْقَوْمُ قَالُوْا مَنْ فَتَى؟ خِلْتُ أَنَّنِيْ عُنِيْتُ فَلَمْ أَكْسَلْ وَلَمْ أَتَبَلَّدِ

Bila orang bertanya : “Siapa pemuda? Saya membayangkan akulah yang dimaksud, karenanya, saya tidak bermalas-malas dan tidak membodohi diri.

Mendengar jawaban itu, sang penguji mengatakan: “Wahai anakku, dengan demikian aku nyatakan engkau lulus dari Darul ‘Ulum, dan yang memiliki jawaban seperti ini hanya engkau dan ustadz Muhammad Abduh. Aku melihat bahwa engkau akan memiliki masa depan yang gemilang”.

Ada syi’ir lain yang selalu beliau kumandangkan, yaitu:

قَدْ رَشَّحُوْكَ لأَمْرٍ لَوْ فَطِنْتَ لَهُ فَارْبَأْ بِنَفْسِكَ أَنْ تَكُوْنَ مَعَ الْهَمَلِ

Orang-orang telah mencalonkan kamu untuk suatu urusan, kalau saja kamu tahu. Maka jagalah dirimu jangan sampai engkau termasuk orang-orang yang lalai.

Beliau lulus dari Darul ‘Ulum tahun 1926 M dan langsung memilih mengajar di sebuah SD di Isma’iliyyah. Ketika beliau hidup di tengah masyarakat, mulailah beliau berkomunikasi dan berbaur dengan masyarakat dan mendekati tokoh-tokoh agama.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, beliau berkumpul bersama tokoh-tokoh ulama di rumah salah seorang ulama senior yang bernama syekh Yusuf Ad-Dajawiy. Di masa itu, orang-orang sosialis komunis, kapitalis dan palanis telah merajalela dalam pengrusakan ummat, sehingga kemungkaran tersebar ke mana-mana. Dalam kesempatan tersebut Hasan Al Banna mengutarakan keresahan hatinya dan meminta para ulama itu untuk melakukan sesuatu demi amar ma’ruf nahi munkar. Jawaban syekh Yusuf pada waktu itu: “Sesungguhnya Allah swt tidak membebani seseorang yang melebih kemampuannya”.

Mendengar jawaban seperti itu Hasan Al Banna tidak puas, ia kemudian berkata: “Wahai Syekh! Andaikan ucapan ini diucapkan oleh selain anda, mungkin kami bisa menerimanya, tapi bila anda yang mengucapkannya, maka sulit bagi kami untuk menerimanya. Ucapan ini terkesan lebih merupakan pembelaan diri, sementara tidak ada sesuatu-pun yag anda lakukan untuk membendung kemungkaran ini”.

Rupanya ucapan Hasan Al Banna ini membuat marah hadirin yang lain. Tapi Al Hamdulillah beliau didukung oleh salah seorang hadirin yang bernama Syekh Bik Kamil. Hasan Al Banna sebenarnya baru pertama kali bertemu dengan syekh Ahmad Bik Kamil ini, namun karena pembelaannya yang tepat pada waktunya itu –di saat Al Banna dalam posisi tersudut- membuat Al Banna tertarik kepadanya dan berharap dapat berjumpa kembali dengannya pada masa yang akan datang.

Karena pembicaraan itu terus berkepanjangan, sementara mereka yang hadir juga diundang di majlis yang lain, maka syekh Yusuf mengajak tamu-tamunya untuk pergi. Hasan Al Banna yang sebenarnya tidak diundang untuk acara tersebut, ikut pula bersama mereka. Mereka semua berkunjung ke rumah salah seorang ulama yang bernama syekh Muhammad Sa’ad.

Di rumah syekh Muhammad Sa’ad, Hasan Al Banna sengaja memilih tempat duduk persis di sebelah syekh Yusuf yang merupakan ulama yang dituakan, agar perhatian turut pula ditujukan kepadanya. Benar saja, tuan rumah tidak lama kemudian bertanya kepada syekh Yusuf tentang pemuda yang ada di sebelahnya, yang tidak lain adalah Hasan Al Banna, yang saat itu usianya baru 21 tahun.

Di rumah syekh Sa’ad mereka disuguhi aneka makanan lezat. Melihat semuanya itu, Hasan Al Banna merasa panas dan tidak senang hatinya. Beliau kemudian berkata: “Apakah kalian kira Allah swt tidak akan menghisab kalian dengan apa yang kalian perbuat seperti ini? Jika kalian tahu bahwa Islam memiliki ulama-ulama selain kalian, tolong tunjukkan aku kepada mereka, mungkin aku akan mendapatkan sesuatu dari mereka yang tidak aku dapatkan pada kalian!”

Mendengar ucapan Hasan Al Banna ini, syekh Sa’ad menangis, lalu ia berkata: “idzan, madza af’al (kalau begitu, apa yang harus saya lakukan?) jawab Al Banna: Masalah ummat ini adalah masalah yang berat. Sebagaimana mereka menyerang ummat ini dengan tulisan-tulisan, kita hadapi pula tindakan mereka dengan tulisan, kalian adalah ulama-ulama besar dan memiliki hubungan yang luas. Kumpulkan orang-orang kaya untuk menyokong dana dan kalian para ulama menyiapkan tulisan-tulisan untuk menghadapi serangan mereka”.

Mendengar jawaban Hasan Al Banna, syekh Sa’ad segera memerintahkan untuk menyingkirkan makanan dan minuman, dan kemudian mengambil pena dan kertas. Malam itu juga mereka menginventarisir siapa ulama yang harus mereka hubungi untuk membuat tulisan dan siapa orang-orang kaya yang akan dimintai bantuan dananya.

Kelompok ini pada saat itu agak berseberangan jalan dengan kelompok syekh Rasyid Ridha dan kawan-kawannya. Pada malam itu syekh Sa’ad memerintahkan pula untuk melibatkan syekh Rasyid Ridha dkk. Diantara yang hadir mengatakan: “Bukankah mereka berbeda (tidak sefikrah) dengan kita? Jawab syekh Sa’ad: “Masalah sekarang ini lebih besar daripada masalah yang kita perselisihkan selama ini, lupakan semua perbedaan itu dan kita cari apa yang kita sepakati”.

Dari pertemuan inilah kemudian berdiri satu jam’iyyah, yaitu: Jam’iyyah Syubbanul Muslimin.

Tidak lama setelah itu terbitlah majalah Syubbanul Muslimin yang bernama Al Fath Al Islami.

Hasan Al Banna sebelumnya, semasa di Kairo, selain belajar, beliau juga aktif berda’wah. Ketika di Al Isma’iliyyah, beliau kembali melakukannya. Beliau mendatangi kedai-kedai kopi. Da’wah beliau begitu indahnya. Meskipun hanya beberapa menit saja, mampu mengundang sempati orang-orang yang kurang terpelajar.

Suatu ketika datanglah beberapa orang kepada Hasan Al Banna. Mereka berkata: “Wahai Ustadz! Kami sudah tidak sabar. Kami hanyalah orang yang tidak mengerti apa-apa, hendak engkau bawa kemana-pun kami, kami akan ikuti. Sekarang, apa yang harus kami lakukan?

Dari pembicaraan-pembicaraan seperti ini, kemudian pada bulan Maret 1928 M terjadilah pembai’atan pertama dalam sejarah jama’ah ini. Ada enam orang yang berbai’at, yaitu:

1. Hafizh Abdul Halim. 2. Ahmad Al Hushari. 3. Fuad Ibrahim. 4. Abdur-Rahman Hasbullah. 5. Isma’il Izz, dan 6. Zakkiy Al Maghribi.

Setelah keenam orang ini berbai’at, salah seorang diantaranya bertanya: “Sekarang kita sudah berkumpul, hendak kita namakan apa kelompok kita ini? Apakah kita perlu membentuk organisasi atau klub atau salah satu tarekat atau yang lainnya dan kita mengambil bentuk yang formal?

Hasan Al Banna menjawab: “Sesungguhnya kita tidak termasuk yang ini atau yang itu dan kita tidak terlalu peduli masalah formal seperti ini. Hendaknya kita menjadikan awal dan dasar pertemuan ini karena kesamaan fikrah, perasaan dan kesamaan untuk beramal. Kita bersaudara dalam berkhidmah kepada ummat Islam. Berarti kita adalah Ikhwanul Muslimin”. Sejak itulah istilah Ikhwanul Muslimin digunakan.

Ada beberapa sisi lain dari kehidupan Hasan Al Banna yang dapat kita pelajari. Diantaranya adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud ketika beliau berjumpa dengan seorang ulama Al Azhar yang dikenal dengan sebutan Hakimul Islam, yaitu: Syekh Thanthawi Jauhari. Beliau adalah seorang ulama yang berusaha menggabungkan ilmu qauli dengan ilmu kauni, salah seorang ulama tafsir, kitab tafsirnya bernama: Al Jawahir. Dalam usianya yang sudah tua, beliau rela dipimpin oleh seorang yang masih muda dan hanya sebatas guru SD. Padahal beliau adalah syekh yang dituakan dan ulama terkenal.

Kata Ustadz Abdul Halim, ketika beliau sedang menulis Arjuzah di kantor Ikhwanul Muslimin, saat itu beliau sedang sendirian, datanglah syekh Thanthawi menjumpainya. Sebelumnya Ustadz Abdul Halim sempat berharap dapat bertemu langsung dengan syekh Thanthawi dan berbicara secara khusus, dan Al Hamdulillah Allah swt mengabulkannya.

Syekh Thanthawi bertanya kepada Ustadz Abdul Halim: “Apa yang sedang engkau tulis? Dijawab oleh ustadz Abdul Halim: “Saya sedang menulis syi’ir yang dipesankan oleh Imam Hasan Al Banna”. Syi’ir itu kemudian dibaca oleh syekh Thanthawi dan beliau kemudian meminta ustadz Abdul Halim membacakanya untuknya. Ustadz Abdul Halim yang hanya lulusan teknik dan bukan lulusan syari’ah serta tidak memahami cara membaca syi’ir, kemudian membaca syi’ir itu. Kata syekh Thanthawi: “Bukan begitu cara membaca syi’ir”. Ustadz Abdul Halim bertanya: “Apakah ada bagian yang keliru saya baca? Jawab syekh Thanthawi: “Tidak, tidak ada satupun bagian yang keliru, akan tetapi bukan begitu cara membaca syi’ir”. Kemudian syekh Thanthawi menambahkan lagi: “Dulu, di masa jahiliyyah, ada sebuah pasar bernama Ukazh, di sana orang-orang jahiliyyah mengambil syi’irnya, seandainya syi’ir itu dibaca dengan cara hafal membacanya, tidak ada daya tariknya, akan tetapi, syi’ir itu harus dibaca sesuai dengan ruhnya”. Maka syekh Thanthawi kemudian mencontohkan cara membacanya dengan demikian indahnya.

Kemudian syekh Thnathawi melanjutkan: “Wahai anakku, manusia dalam hidup ini membutuhkan riyadhah (latihan), sebagaimana fisik itu harus dilatih, ruh itupun harus dilatih. Orang-orang yang biasa berlatih akan memiliki satu tingkat dari orang-orang yang tidak pernah berlatih”. (Di dalam tarekat ada satu tingkatan yang paling tinggi, yaitu Al Kasyf, yaitu kemampuan mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh orang lain, bi-idznillah, suatu tingkatan bagi orang-orang yang memiliki tingkat latihan ruhiyyah paling tinggi). Syekh Thanthawi kemudian bertanya: “Adakah orang lain yang kedudukannya lebih tinggi lagi dari Ahlul Al Kasyf wahai anakku! Kata ustadz Abdul Halim: “Saya kira tidak ada wahai syekh!”.

Dijawab oleh Thanthawi: “Tidak wahai anakku”. Abdul Halim bertanya lagi: “Kedudukan mana lagi yang lebih tinggi dari itu?”. Jawab syekh Thanthawi: “Kedudukan yang lebih tinggi dari itu adalah kedudukan para rijal yang dibentuk oleh Allah swt dan dipilih diantara makhluq-Nya, mereka dipilih oleh Allah swt untuk memusnahkan kerusakan, menghilangkan kezhaliman, menghidupkan api keimanan di dalam hati setiap orang, serta menyebarkan ukhuwwah diantara orang-orang yang beriman, hingga da’wah ini menjadi kuat dan mampu mengangkat nama Allah di atas bumi dan mampu menghadapi orang-orang zhalim yang membuat kerusakan”.

Selanjutnya syekh Thanthawi mengatakan: “Ketahuilah anakku, misi ini, yang Allah pilih mereka untuk mengemban-Nya, menuntut mereka menjadi ahlul hajb, menjadi orang yang tidak nampak kekuatan spiritualnya (tidak bisa jalan di air, tahan dibakar api, dsb) –akan tetapi kedudukan mereka lebih tinggi dari Ahlul Kasyf, mengapa? Sebab, ilmu ahlul kasyf tidak dapat dipelajari, sedangkan ilmu ahlil hajb dapat dipelajari dan dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga akhir zaman”. Tambah syekh Thanthawi, “termasuk diantara ahlil hajb adalah para rasul, nabi Musa as (ahlul hajb) kedudukannya lebih tinggi dari nabi Khidhir as (ahlul kasyf), sebab nabi Musa as termasuk ulul ‘azmi minar-rasul, hanya lima dari sekian banyak nabi dan rasul yang mendapatkan gelar ini, meskipun di dalam Al Qur’an secara sepintas seolah nabi Khidhir lebih tinggi daripadanya. Demikian pula dengan nabi Sulaiman as, ketika burung pelatuk kecil menemukan kerajaan Bilqis, berkata nabi Sulaiman: “Siapa yang dapat memindahkan singgasana ratu Bilqis kemari sebelum mereka datang ke sini? Berkata salah satu jin Ifrith: “Aku mampu memindahkan singgasana itu sebelum engkau bangkit dari tempat dudukmu”. Berkatalah seseorang yang diberi ilmu kitab, Asyif namanya: “Aku mampu memindahkan singgasana itu sebelum matamu berkedip”. Meskipun ilmu ahli kitab (ahlul kasyf) itu lebih tinggi dibanding nabi Sulaiman as, akan tetapi kedudukan nabi Sulaiman tetap lebih mulia, sebab dia adalah seorang rasul Allah, sedangkan Asyif tidak”.

Kata syekh Thanthawi: “Diantara ahlul hajb adalah sahabat-sahabat yang besar, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dll. Diantara mereka yang lain adalah kibarul mushlihin (para reformer besar) yang diantaranya adalah Hasan Al Banna”.

Bertanya Ustadza Abdul Halim: “Begitukah engkau melihat Hasan Al Banna?”.

Dijawab: “Ya”.

Ditanya lagi: “Bagaimana engkau dapat mengenalnya?”

Jawab Thanthawi: “Ketika aku mendangar namanya disebut-sebut orang, aku datangi dia dan aku duduk bersamanya, aku tanya dia: “Apa yang engkau da’wahkan?”. Sebagaimana banyak orang yang yang pernah aku jumpai dia menjawab: “Aku menda’wahi orang kepada Al Qur’an”. Maka aku katakan kepadanya: “Masing-masing kelompok mengaku bernisbat kepada Al Qur’an, tidak ada satu kelompokpun di dalam da’wah Islamiyyah ini –termasuk yang sesat sekalipun- kecuali mereka mengatakan: mengajak kepada Al Qur’an. Jawablah pertanyaan saya dengan rinci tentang da’wah yang engkau serukan itu pada setiap aspek kehidupan! Kemudian ia menerangkan da’wahnya dan aku dapati da’wahnya tidak keluar dari kitabullah dan sunnatur-Rasul saw”.

Diceritakan pula, ketika Thanthawi akhirnya terkesan dan tertarik serta ingin bergabung dengan Hasan Al Banna, dia bertanya: “Wahai Ustadz! Engkau adalah ustadz kami, dan ustadz semua orang di Mesir ini, andalah Hakimul Islam, kulihat anda lebih berhak untuk menduduki kepemimpinan di dalam da’wah ini, ini tanganku, aku siap berbai’at kepadamu”. Ketika Hasan Al Banna menjawab sungkan, dijawab oleh Thanthawi: “Tidak, wahai shahibud-da’wah, engkau lebih mampu untuk memikul beban da’wah ini dan engkau lebih pantas, dan ini tanganku”.

Ketika beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, teman-teman seangkatan beliau meledeknya dengan mengatakan: “Anda seorang ulama besar dan seorang syekh, mengapa anda mau menjadi kelompok yang dipimpin seorang anak muda dan anda hanya menjadi seorang pemimpin redaksi? Dijawab oleh Thanthawi: “Seandainya anda mengetahui siapa Al Banna, anda akan lebih dahulu bergabung daripada saya, sayang anda tidak mengetahuinya”.

Dari apa yang diungkapkan oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud, kita dapat melihat bahwa Hasan Al Banna adalah orang yang dapat secara akrab menjalin hubungan dengan anggota setiap kelompok masyarakat tanpa membedakan satu dengan lainnya.

Dalam buku ini pula dapat kita saksikan bagaimana kearifan sikap Hasan Al Banna ketika menghadapi Thaha Husain, gembong kerusakan di bidang pemikiran yang membuka cakrawala pemikiran sesat di kalangan para pemikir Islam di belahan dunia, ketika ia menerbitkan buku Mustaqbaluts-Tsaqafah fi Mishr (Masa depan budaya Mesir), yang mendapat sanggahan bertubi-tubi dari berbagai kelompok yang ada di Mesir. Hasan Al Banna sendiri –karena kesibukannya- tidak mempunyai waktu untuk menanggapinya. Beberapa pengikutnya kemudian mengingatkan beliau dan berkata bahwa orang-orang menunggu tanggapan Ikhwanul Muslimin atas buku Thaha Husain itu, karena kedudukan Ikhwanul Muslimin saat itu sudah diperhitungkan di masyarakat. Dijawab oleh Hasan Al Banna bahwa dia sibuk dan tidak sempat membacanya.

Tanpa sepengetahuan Hasan Al Banna, para pengikutnya merencanakan untuk mengadakan semacam bedah buku Thaha Husain itu, dengan beliau sebagai pembahasanya. Lima hari sebelum acara berlangsung, diberitahukan kepadanya mengenai hal ini. Hasan Al Banna berkata terpaksa dia membaca buku itu dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah, sementara ia berada di atas treem. Ia membaca buku itu dan memberi garis bawah bagian-bagian yang penting. Sebelum lima hari buku itu sudah selesai dibaca dan sudah pula dihafalnya. Buku itu tebalnya dua ratus halaman lebih.

Bedah buku itu diselenggarakan di kantor Syubbanul Muslimin, yang menjadi moderator adalah DR. Yahya Ad-Dardiri, sekjen Syubbanul Muslimin dan hadir pada acara bedah buku itu tokoh-tokoh Mesir dari berbagai kalangan.

Hasan Al Banna mengkritik buku itu dengan cara yang unik, dia mengatakan: “Saya tidak akan mengkritik buku ini dengan pendapat saya, tapi saya akan mengkritiknya dengan buku ini sendiri”. Kemudian beliau mengungkapkan bagian-bagian yang kontradiktif dari buku itu, lengkap dengan letak nomor halamannya, sekian dan sekian.

DR. Yahya Ad-Dardiri kemudian menyetop dan mengatakan bahwa dirinya telah membaca buku itu, tapi sepertinya dia tidak menemukan apa yang Hasan Al Banna kemukakan, dan dia meminta kepada Hasan Al Banna untuk mengijinkannya mengecek kebenaran kutipan-kutipan Hasan Al Banna langsung kepada buku itu. Ternyata terbukti, seluruh yang diungkapkan Hasan Al Banna benar adanya.

Dalam acara bedah buku itu sebenarnya Thaha Husain juga hadir, namun ia berada di tempat yang tersembunyi. Sebelum pulang ia mengatakan bahwa ia ingin bertemu dan berdialog dengan Hasan Al Banna. Ia menawarkan tiga tempat; di rumahnya, di kantornya atau di rumah Hasan Al Banna. Adapun waktunya, ia menyerahkannya kepada Hasan Al Banna. (bayangkan! Seorang mustasyar atau penasehat negara, menyerahkan waktu pertemuannya kepada seorang guru SD!).

Akhirnya terjadilah pertemuan di kantor Thoha Husain. Berkata Thoha Husain: “Seandainya di Mesir ini ada tokoh yang paling besar, andalah orangnya, apa yang anda sampaikan tentang buku saya, demikian baik”. Kata Hasan Al Banna: “Al Hamdulillah, adakah hal-hal yang tidak anda setujui?” dijawab oleh Thoha Husain: “Tidak ada, bahkan saya ingin agar pembahasan itu ditambah lagi”.

Kemudian Thaha Husain bertanya: “Apakah ada sikap dan perkataan saya yang tidak anda senangi? Ketahuilah! Selama ini saya berhadapan dengan orang yang tidak mempunyai etika dalam berdebat, ketika mereka menyerang saya, diri saya-pun diserang. Seandainya musuh-musuh saya adalah orang-orang semulia anda, sejak awal saya akan menghormati mereka”.

Hasan Al Banna menjawab: “Anda adalah seseorang yang cukup bangga dengan Barat, akan tetapi sayang, anda tidak mampu membedakan dua hal yang sangat berbeda. Adapun ilmu, itu adalah sesuatu yang terus berkembang, hari ini kita benar, esok hari bisa jadi kita keliru. Akan tetapi agama, dia adalah sesuatu yang pasti dan tidak berubah, jika kita menjadikan agama sebagai ilmu, sama artinya kita merubah agama itu dari hari ke hari, dan jika kita menjadikan ilmu sebagai agama, kita berarti telah membunuh hak ilmu itu untuk berkembang, padahal semestinya kita meletakkan keduanya pada tempatnya masing-masing.

Hal yang lain lagi, kalian –para pengagum Barat- lebih mendahulukan akal daripada wahyu, ketika akal bertabrakan dengan wahyu, kalian mengambil akal dan membuang wahyu”.

Dalam kesempatan dialog itu Hasan Al Banna juga mengkritik polemik yang tejadi antar sesama ummat Islam. Beliau mengatakan kalau seandainya berpolemik ummat Islam mempunyai tenggang rasa sedikit saja, mereka akan bertemu pada satu titik persamaan, akan tetapi sayang, mereka memilih bersikap seperti empat orang buta yang mensifati binatang gajah, yang kata Imam Al Ghozali, masing-masing bersikeras pada pendapatnya yang sebenarnya juz’i. Seandainya mereka memiliki toleransi sedikit saja, mereka bisa bersepakat dalam menilai gajah tersebut dalam bentuknya yang utuh.

Ustadz Abdul Halim mencatat, sejak saat itu Thaha Husain menjadi lebih baik sikapnya. Beliau kemudian memilih untuk mendalami sastra Arab dan mengurangi perannya dalam menyesatkan ummat.

Adapun hubungan Hasan Al Banna dengan para ulama, ketika syekh Abdul yazid datang ke Indonesia, beliau bercerita: “Di Mesir, ada sebuah kota yang bernama Zaqzuq. Ketika Hasan Al Banna hendak melakukan kunjungan ke sana, adalah seorang ulama tarekat terkenal yang memiliki banyak murid. Ia berupaya membuat makar untuk menggagalkan acara kunjungan Hasan Al Banna. Namun karena tanggal kedatangan Hasan Al Banna dirahasiakan, hanya sedikit orang yang tahu, ulama ini tidak mengetahui persis kapan Hasan Al Banna akan datang berkunjung. Pada suatu hari, sang ulama ini dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintunya untuk berkunjung. Ulama itu bertanya: “Siapa?” dijawab: “Saya, Hasan Al Banna”. Maka terkejutlah dia, dengan ‘terpaksa’ ia menjamu Hasan Al Banna. Hasan Al Banna kemudian berkata kepada sang ulama itu: “Adalah satu hal yang tidak pantas bagi saya, ketika saya masuk suatu negeri dengan tidak meminta ijin pada penguasanya”. Sampai saat ini keturunan ulama itu, meskipun tidak bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, setiap kali ada kegiatan ikhwan, selalu membantu.

Demikian pula sikap Hasan Al Banna terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Ketika Ikhwanul Muslimin mengirim pasukan ke Paletina, Hasan Al Banna mampu mempergunakan Manthiqul Hal dalam berdialog dengan para penguasa maupun tokoh-tokoh lainnya.

Inilah profil Hasan Al Banna. Kita perlu menggali lebih jauh dan dalam lagi. Dalam sejarah, umumnya memang para tokoh-tokoh utama itulah yang muncul secara mengesankan, sehingga mampu memberi warna perjalanan da’wah.

Di zaman Rasulullah saw misalnya, sepeninggal Rasulullah bisa dibilang tidak ada tokoh sehebat beliau yang muncul.

Demikian pula dalam jama’ah ini, yang menurut DR. Al Faruqi, belum ada tokoh sebesar Hasan Al Banna yang muncul, namun kita tetap yakin bahwa :

إِنَّ لِكُلِّ مَرْحَلَةٍ رِجَالُهَا

Sesungguhnya tiap-tiap marhalah itu ada tokohnya.

Pertanyaan kita hari ini:

رِدَّةٌ وَلاَ أَبَا بَكْرٍ لَهَا!

Kalau pada zaman dahulu, ada kemurtadan, dan ada Abu Bakar, sehingga kemurtadan itu sirna.

Sekarang ini ada masyarakat, mana Hasan Al Banna-nya?!!

Mengenal Para Mursyid Am Ikhwanul Muslimin: 6. Ma’mun Al-Hudaibi

25/3/2009 | 29 Rabbi al-Awwal 1430 H | 2,539 views

Oleh: Al-Ikhwan.net


Kirim Print

mamun-hudaibi6. Ma’mun Al-Hudaibi; Mursyid Am keenam Ikhwanul muslimi

Beliau adalah seorang konsultan dan jaksa; Muhammad Ma’mun Hasan Ismail Al-Hudaibi, mursyid ke enam jamaah Ikhwanul muslimin, anak kandaung dari konsultan Hasan Al-Hudaibi, Mursyid Am kedua Ikhwanul muslimin yang menjabat pada tahun 1950 sampai 1973

beliau Lahir di propinsi Sohaj, Mesir tanggal 28 Mei 1921, dan keluarganya berasal dari desa Arab As-Shawalihah, distrik Syibin El-Qanatir, propinsi Al-Qolyubiyah, lalu setelah itu keluarganya banyak berpindah ke berbagai tempat dan kota di Mesir; karena orang tuanya adalah seorang Jaksa Hasan Al-Hudaibi, yang merupakan mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin pada masa dari tahun 1951 hingga meninggal pada tanggal 13 Nopember 1973

Aktivitas Beliau

Ustadz Muhammad Ma’mun Al-Hudaibi menjalani masa pendidikan umum di berbagai sekolah di Mesir mulai dari tingkat ibtidaiyah hingga kuliah dan meraih sarjana pada kuliah hukum di Universitas Raja Fuad (sekarang universitas Kairo). setelah itu beliau ditetapkan sebagai wakil jaksa.

Kemudian secara beransur menjabat sebagai  Jaksa Penuntut Umum kemudian ditunjuk sebagai hakim. 

Kemudian setelah itu menjabat bidang peradilan hingga menjadi Ketua Pengadilan Banding di kejaksaan pemula di Kairo, yang merupakan akhir karirnya di pemerintahan di Mesir. 

 Setelah itu bekerja di Arab Saudi dalam satu periode dan kemudian kembali ke Kairo untuk mencurahkan dirinya dalam dakwah.

 Akhirnya beliau menjabat sebagai ketua Pengadilan untuk Gaza pada tahun 1956. 

Bersama jamaah Ikhwanul Muslimin

Ustadz Ma’mun Hudhaibi berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dakwah dan harakah terutama dalam melakukan perlawanan rakyat saat terjadi agresi selasa atas Mesir pada tahun 1956 sehingga beliau ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel

Kemudian beliau bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin, namun dirinya tidak terlepas dari penjara dan penangkapan pada masa pemerintahan Jamal Abdul Nasser pada tahun 1965 dan dipindahkan dari penjara perang dan Tora saat itu.

Kemudian pada pemerintahan Sadat pada tahun 1971 dibebaskan dari penjara, dan kemudian mengajukan gugatan untuk menuntut kembali bekerja di bidang peradilan, maka Pengadilan pun mengangkatnya kembali namun pemerintah menolaknya untuk kembali bekerja tanpa memberikan justifikasi apapun.

Di Parlemen 

Jamaah mencalonkan beliau dan sekelompok Ikhwan lainnya pada pemilu tahun 1987 legislatif dan berhasil meraih 36 orang untuk menjadi anggota parlemen 

Beliau menjadi anggota parlemen dari daerah pemilihan Al-Dokki, Propinsi Al-Giza

Kemudian pada saat itu pula beliau diangkat untuk menjabat sebagai juru bicara resmi fraksi Ikhwanul muslimin di Parlemen

Dan setelah itu, beliau  terpilih sebagai Wakil Mursyid Am Ikhwanul Muslimin  dan menjadi juru bicara jamaah Ikhwanul muslimin

Menjabat sebagai mursyid am Ikhwanul Muslimin

Pada saat menderita sakit dan koma yang dialami oleh Mursyid Am Ikhwanul Muslimin ustadz Mustafa Mashhour pada tanggal 29 Oktober 2002 akibat pendarahan otak yang telah meraja lela pada dirinya, dan akhirnya ustadz Ma’mun Hudaibi mengambil alih tugas jabatan Ikhwanul Muslimin.

Dan Pada hari Rabu sore, tanggal 22 Ramadan 1423 bertepatan dengan tanggal 27 November 2002 beliau terpilih menjadi Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, menggantikan posisi ustadz Mustafa Mashhour sehingga beliau resmi menjadi Mursyid Am  keenam Ikhwanul Muslimin

Wafatnya

Ustadz Ma’mun Al-Hudaibi meninggal setelah berbagai penyakit dan permasalahan kesehatan menyerang beliau, sehingga membuatnya  sering keluar masuk rumah sakit untuk mendeteksi usus besarnya, kemudian meninggal setelah kembali ke rumahnya di Kairo. 

Lebih dari 300 ribu warga ikut menyalatkan beliau di Masjid Rab’ah al-adawiyah setelah salat Jumat dan yang menjadi imam saat itu adalah “Khaled Hudhaibi,” putra almarhum, dan yang menjadi imam qashar bagi para musafir adalah ustadz Mohamed Helal, Mursyid Am sementara, karena beliau adalah anggota tertua hingga diadakan pemilihan baru

Prosesi pemakaman beliau dilakukan dengan berjalan kaki dari masjid menysuri jalan An-nasr, hingga tiba di pusat klub Al Ahli Al-Jadid di Nasr City, Timur Kairo, kemudian mayat beliau diusung dengan menggunakan mobil khusus dan diiringi dibelakangnya oleh ratusan mobil, mayat Ustadz Ma’mun dibawa untuk dikubur di pemakaman keluarganya di daerah Arab  Alsowalihah, distrik Shibin El-Qanatir, provinsi Qaliubiya; dan almarhum dimakamkan disamping ayahnya “Hasan Al-Hudhaibi,” mursyid am Ikhwanul muslimin kedua.

Kembara Syuhada’

http://izharhadafi.files.wordpress.com/2009/02/imam_shahid_hasan_al_banna01_320_thumb.jpg
Al-Imam Hassan Al-Banna gugur syahid pada 12hb Februari 1949

“sesungguhnya aku amat meridui seorang pemuda/pemudi yang tidak tidur lena kerana memikirkan masalah ummah..”

“Janganlah engkau merasa seolah-olah umurmu masih panjang kerana lamunan seperti itu banyak membawa kepada ajal…”

“Jika kau ingin mencapai kesempurnaan sembahlah Allah semata-mata dan jauhkan daripada menyembah benda-benda lain. Jika kau mencari kebenaran, maka kau dapati setiap benda lain tidak kekal. Yang kekal hanyalah Allah” “Kamu adalah satu roh baru yang mengalir dalam urat nadi umat ini, lantas kamu menghidupkannya dengan al-Quran. Kamu adalah satu cahaya baru yang memancar yang akan menghancurkan kegelapan fahaman kebendaan dengan mengenal Allah. Kamu adalah suara-suara lantang yang melaungkan kembali dakwah Rasulullah SAW.”

https://i2.wp.com/1.bp.blogspot.com/_QFq5ZuwKxOs/Ry7IwnHGn5I/AAAAAAAAAUI/JAyJIfCn9dw/s400/180px-Qutb_in_egyptian_prison.jpg
Pesanan Akhir, As-Syahid Sayyid Qutb
(senyum ditali gantung) pada 1965
Seandainya kau tangisi kematianku
Dan kau siram pusaraku dengan air matamu
Maka di atas tulangku yang hancur luluh
Nyalakanlah obor buat umat mulia ini
Dan teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Kematianku adalah suatu perjalanan
mendapatkan kekasih yang sedang merinduiku
Taman-taman indah di syurga bangga menerimaku
Burung-burungnya berpesta menyambutku
Dan bahagialah hidupku di sana.

Puaka kegelapan pasti ia kan hancur
Fajarkan menyinsing
Dan alam ini akan disinari fajar lagi
Biarlah rohku terbang mendapatkan rindunya
Jangan gentar berkelana ke alam abadi
Di sana cahaya fajar memancar.

https://i0.wp.com/www.palestine-info.info/Ar/DataFiles/Contents/Files/shohada/Rantisi/rantisi5.jpg
Abdul Aziz al-Rantisi (1947-2004)

“Semua orang akan mati, mengapa takut dengan kematian. Jika saya diberikan pilihan samada untuk mati dibedil oleh helikopter Apache (milik tentera Zionis) ataupun akibat serangan jantung, saya memilih (untuk dibedil) oleh Apache”.

https://i2.wp.com/newsimg.bbc.co.uk/media/images/45339000/jpg/_45339723_rayyan_ap226.jpg
Dr. Nizar Rayyan (1959-2009)

“Saya katakan kepada kalian agar kalian tenang, seandainya Rantisi, Az Zahhar, Haneya, Nazzar Rayyan, Said Sayyam, dan semuanya gugur syahid, demi Allah, kami akan bertambah gemilang dan semakin mencintai jalan ini. Tangan-tangan kita yang menggenggam senapang di dunia insyallah Allah roh-roh kita akan berpelukan di sisi Allah

http://hamaslovers.files.wordpress.com/2009/03/nadia1.jpg
Nadia Abu Marzuq
Ummu Muhammad-Isteri As-Syahid Dr Aziz Rantisi

Apa yang ingin puan katakan kepada muslimat Palestin yang sedang menunggu giliran syahidnya suami, bapa dan anak-anak mereka?

Saudari-saudariku yang dikasihi: Sesungguhnya peranan wanita bukan sekadar yang kamu sumbangkan sekarang sahaja, bahkan peranan kita adalah bersama para lelaki dan Rasul s.a.w yang mulia telah bersabda :

Setiap kamu adalah ketua, dan setiap ketua pasti akan dipertanggungjawabkan ke atas orang bawahannya..dan wanita itu adalah dipertanggungjawabkan di rumah suaminya dan ia akan dipersoalkan apa yang di bawahnya ?. Sesungguhnya telah terakam contoh terbaik wahai saudari-saudariku yang dikasihi di lembaran-lembaran terdahulu, maka peranan kamu setelah syahidnya suami ataupun anakmu, ialah menyempurnakan peranan kamu dalam kehidupan mereka. Semoga Allah menetapkan pendirian dan menjaga serta menghimpunkan kamu bersama

********************
~ Andai ISLAM di umpamakan seperti bangunan usang yang hampir roboh, maka akan aku berjalan seluruh dunia mencari jiwa-jiwa muda, aku tidak ingin mengutip ramai bilangan mereka, tapi aku ingin hati-hati yang ikhlas untuk membantuku & bersama denganku membina kembali bangunan yang usang itu menjadi sebuah bangunan yang tersergam indah..~ Imam Assyahid Hasan Al-Banna

“Jika Kamu Ingin Tahu Nasib Ummahmu Maka Lihatlah Generasi Kamu”
-Imam Al-Ghazali-

“Aku adalah anak-anak panah Islam. Campakkanlah aku ke mana sahaja, aku tetap berjuang demi Islam.”
-Saad bin Abi Waqqas-

aku punya jiwa perindu, aku rindukan kepimpinan maka aku mendapatkannya, aku rindukan kekhalifahan maka aku mendapatkannya, kini… aku merindukan SYURGA…” ~UMAR ABDUL AZIZ~

Kemuliaan Jenazah Para Ulama’

Jenazah Imam Ahmad bin Hanbal

Pada hari wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal, tak sedikit mereka yang turut menghantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya.

Semuanya menunjukkan bahawa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menujukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sihat, “Katakan kepada ahlu bid’ah bahawa perbezaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari kematian kami.”

Jenazah Imam Bukhari

Ghalib bin Jibril berkata: “Kami telah menunaikan pesanannya (Imam Bukhari), sudah mengafaninya, kemudian menyolatkannya, barulah kami memasukkannya ke dalam liang lahad. Sejurus itu terdapat bau yang amat wangi seperti ‘Misk’ terbesar dari tanah perkuburannya dan ia berterusan beberapa hari.”

Jenazah Tok Kenali

Di tengah-tengah suasana yang sepi, berduyun-duyun manusia yang berwajah sebam, hampir semuanya berkopiah, berserban dan bersongkok telah memasuki saf untuk mensolatkan jenazah Tok Kenali. Mereka kelihatan penuh khusyuk dan insaf.

Bersaf-saf orang mengangkat takbir, susul-menyusul. Alim ulama, guru-guru dan murid serta orang kampong tua-muda datang bersolat tanpa meminta upah dan habuan, demi untuk kebahagiaan roh Tok Kenali buat selama-lamanya. Orang-orang besar dan berpangkat dari ibukota, tidak juga ketinggalan.

Hari wafatnya dilawati oleh tidak kurang daripada 2,500 orang dan jenazahnya disolatkan lebih 1,000 orang yang ikhlas kepada Allah.

Tok Kenali wafat pada 19 November 1933 M

Jenazah Badiuzzaman Said Nursi

Pertama kali berita duka wafatnya Badiuzzaman Said Nursi, tersebar di Urfah dan tidak lama kemudian masyarakat kota ini tampak berhimpun di sekitar hotel. Kemudian berita ini tersebar di bandar-bandar Turki yang lain. Masyarakat luas dari luar Urfah berdatangan sehingga kota ini seketika menjadi lautan manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawannya.

Jenazah Said Nursi dipikul para murid dan orang-orang yang mencintainya dengan diiringkan oleh puluhan ribu penghantar jenazah dan dengan disertai hujan yang turun rintik-rintik untuk dikebumikan di pemakaman Ulu Jami.

Said Nursi wafat pada 23 Mac 1960.

Jenazah Syeikh Mutawalli Sya’rawi

Umat Islam ketika itu terkejut dan tersentak apabila seorang Imam yang memperjuangkan Islam sehingga digelar sebagai “Lampu Kebenaran” telah wafat ketika berumur 87 tahun. Iaitu Syeikh Mutawalli Sya’rawi.

Jenazah beliau telah dikebumikan di kampungnya iaitu Doqdus berdasarkan wasiat beliau sendiri. Jenazahnya telah dibawa oleh anak-anak muridnya, penduduk kampung serta semua pencinta beliau. Hampir sejuta orang telah menghadiri pengkebumian beliau.

Syeikh Sya’rawi wafat pada 17 Jun 1998.

Orang Alim dan Lautan

Seorang alim yang biasa merenungkan makna segala sesuatu, pergi ke lautan dan menanyakan mengapa lautan memakai pakaian biru, kerana warna ini ialah warna duka dan mengapa ia mendidih tanpa api?

Lautan menjawab pada manusia perenung itu, “Aku risau kerana terpisah dari sahabatku. Kerana kekuranganku, aku tak layak baginya, maka kukenakan pakaian biru ini sebagai tanda sesal yang kurasa. Dalam kesedihanku, pantai-pantai bibirku kering dan disebabkan api cintaku, aku berada dalam gebalau ini. Kalau dapat kuperoleh setitik saja air syurgawi dari al-Kausar, maka akan dapat kukuasai gerbang kehidupan kekal. Tanpa setitik ini aku akan mati kerana ghairah damba bersama ribuan yang lain, yang binasa dalam perjalanan.”

Saham Ulama Pewaris Nabi Untuk Islam

Begitu pentingnya peranan ulama pewaris nabi dalam mengemban misi dakwah Islam, tentu banyak pula saham yang telah mereka berikan untuk keberlangsungan Islam. Untuk mengetahui bentuk saham tersebut alangkah baiknya kita menyimak ucapan Syaikh Tsaqil bin Shalfiq Al-Qashimi tentang mereka. Beliau menjelaskan: “Mereka (ulama pewaris Nabi), adalah orang-orang yang mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mencatatnya dalam lembaran-lembaran dengan metode yang bermacam-macam seperti (karya tulis berbentuk) musnad, majma’, mushannaf, sunan, muwaththa’, az-zawaid dan mu’jam.

Mereka menjaga hadits-hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dari pemalsuan dan tadlis. Mereka membedakan antara hadits-hadits shahih dari yang lemah. Oleh sebab itu mereka membuat kaidah-kaidah hadits yang mempermudah proses pembedaan antara hadits yang bisa diterima dari hadits yang harus ditolak.

Disamping itu mereka juga membeda-bedakan para perawi hadits. Mereka mengarang kitab-kitab tentang para perawi hadits: Yang terpercaya, yang lemah dan para pemalsu hadits. Mereka menukilkan pula (dalam karangan-karangan tersebut) ucapan para Imam yang memiliki ilmu dalam bidang pencatatan dan pemujian perawi hadits (para ulama jarh wa ta’dil). Bahkan mereka membeda-bedakan riwayat-riwayat dari rawi yang satu antara riwayat-riwayat yang ia diterima dari penduduk negeri Syam, penduduk negeri Iraq atau penduduk negeri Hijaz10, Mereka juga membedakan antara riwayat seorang yang mukhtalath (orang-orang yang kacau hapalannya) 11, mana hadits-hadits yang diriwayatkan sebelum ikhtilath dan yang diriwayatkan sesudahnya. Demikian seterusnya.

Sesungguhnya orang yang membidani ilmu hadits dengan berbagai macam cabangnya, pembagiannya, jenis dan karya-karya tulis tentangnya, akan benar-benar mengakui besarnya andil mereka (ulama pewaris nabi) dalam menjaga hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka telah menjelaskan aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah dengan seluruh bab-bab nya dan membantah para ahlul bid’ah yang menyimpang darinya. Mereka telah memberikan peringatan agar berhati-hati ahlul ahwa’ wal bid’ah, melarang duduk bersama mereka dan berbincang-bincang dengan mereka. Bahkan mereka tidak mau menjawab salam dari ahlul bid’ah, serta tidak mau menikahkan anak perempuannya dengan mereka dalam rangka menghinakan dan merendahkan ahlul bid’ah dan yang sejenisnya. Selanjutnya mereka menulis tentang hal ini dalam banyak tulisan.

Mereka telah mengumpulkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkenaan dengan tafsir Al-Quran AL-Adhim, seperti Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir As-Shan’ani, Tafsir AnNaasa’i. Diantara mereka ada yang mengarang kitab-kitab tafsir mereka seperti Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir dan yang lainnya. Disamping mengarang kitab-kitab tafsir mereka juga membentuk kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar tentang tafsir Al-Qur’an. Bahkan mereka juga membedakan antara penafsiran yang menggunakan riwayat dengan penafsiran yang menggunakan rasio.

Keemudian mereka juga meengarang kitab-kitab fiqh dengan seluruh bab-babnya. Mereka berusaha membahas setiap permasalahan fiqh dan menjelaskan hukum-hukum syariat amaliyah dilengkapi dengan dalil-dalil yang rinci dari Al-Qur’an, As Sunah,Ijma’ dan Qiyas(sebagai landasan pembahasan). Mereka meletakan kaidah-kaidah fiqh dan yang dapat mengumpulkan berbagai cabang dan bagian (permasalahan) dengan ilat (penyebab) yang satu. Lalu mereka juga menyusun ilmu ushul fiqh yang mengandung kaidah-kaidah untuk melakukan istinbath (pengambilan) hukum syariat yang bercabang-cabang. Mereka telah melahirkan karya-karya yang cukup banyak tentang disiplin-disiplin ilmu fiqh ini.

Berikutnya juga mengarang kitab-kitab sirah, tarikh, adab, zuhud, raqaiq(pelembut jiwa), bahasa arab, nahwu, dan bermacam-macam karangaan di berbagai bidang ilmu yang cukup banyak…”

Demikian keterangan yang dibawakan secara panjang lebar oleh Syaikh Tsaqil Ibnu Shalfiq Al-Qashimi. (Sallus Suyuf wa Asinnah ‘ala Ahlil Ahwa wal Ad’iyais Sunnah, hal. 76-77, penerbit Dar Ibnu Atsir)

Dari masa ke masa para ulama pewaris nabi telah berjasa dalam bidang-bidang ilmu seperti yang disebutkan diatas. Diantaranya adalah:

Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi, An-Nasa’i, Malik bin Anas, Sufyan At-Tsauri, Ali bin Al-Madani, Yahya bin said, Al-Qahthan, Asy-Syafi’I, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruquthuni, Ibnu Hibban, Ibnu ‘Adi, Ibnu Mandah, Al-Lalikai, Ibnu Abi Ashim, Al-Khalal, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Ibnu abdil Bar, Al Khatib Al-Baghdadi, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab beserta anak-anak dan cucu-cucunya yang menjadi ulama Nejd, Muhibuddin Al-Khatib, Muhammad Hamid Al-Fiqi dari Mesir dan ulama Sudan, para ulama Maroko dan Syam, dan seterusnya.

Kemudian ulama masa kini yang berjalan di atas manhaj ulama terdahulu seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz (mufti negara Saudi Arabia), Syaikh ahlul hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzaan, Shalih Ak-Athram, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Abdullah Al Ghadyan, Shalih Al-Luhaidan, Abdullah bin Jibrin, Abdur Razaq Afifi, Humud At-Tuwaijiri, Abddul Muhsin Al-Abbad, Hammad Al-Anshari, Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Muhammad Aman Al-Jami’, Ahmad Yahya An-Najami, Zaid Muhammad Hadi Al-Madkhali, Shalih Suhaimi, Shalih Al-‘abbud dan para ulama lain yang berada di alam Islami (saat ini).

Kita memohon petunjuk kepada Allah yang Maha Hidup dan berdiri sendiri untuk menjaga yang masih hidup dari mereka dan merahmati yang sudah meninggal. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua orang-orang yang mengikuti langkah mereka dan membangkitkan kita bersama mereka dan Nabi tauladan kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam Surga Firdaus. (Lihat Sallus Suyuf hal. 78-79)

 

  Kerana Ilmu Mereka Rela Membujang

“Saya berpendapat, bagi seorang penuntut ilmu pemula hendaknya ia menahan untuk tidak menikah sebisa mungkin. Sesungguhnya Imam Ahmad bin Hanbal tidak menikah hingga berumur 40 tahun. Semua itu dilakukan demi ilmu.”
(Ibnu Jauzi)

“Dianjurkan bagi seorang penuntut ilmu untuk membujang sebisa mungkin, agar dalam mencari ilmu ia tidak disibukkan dengan hak-hak keluarga yang harus ia penuhi dan disibukkan dengan mencari penghidupan.”
(Khatib al-Baghdadi)

Memilih hidup membujang kerana ingin berkonsentrasi menggeluti ilmu merupakan sebuah pilihan hidup yang luar biasa. Desah-desah syahwat yang pada sebahagian orang justeru men­jadi raja yang menguasai hati, berhasil terpinggirkan kerana dominasi cinta terhadap ilmu yang begitu menggumpal dalam relung-relung hati. Itulah sebuah catatan indah yang pernah tergoreskan dalam sejarah hidup sebahagian para ulama sebagai pewaris para nabi. Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah dan Imam At-Tabari termasuk sebahagian ulama yang ‘berijtihad’ terhadap diri mereka sendiri untuk tidak menikah kerana ilmu. Dan sekali lagi, ini merupakan sebuah pilihan hidup yang luar biasa!
Pilihan mereka untuk hidup membujang daripada menikah, dengan keilmuan, kesolehan, kejantanan dan kenormalan mereka, tak lain kerana mereka lebih mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri. Agar mereka dapat mencurahkan segenap kemampuan mereka guna berkhidmat untuk din dan ilmu. Agar mereka dapat mengerahkan segenap usahanya untuk menjabarkan syariat yang mulia ini, menyusunnya serta menyajikannya kepada banyak orang. Tak diragukan lagi bahawa sikap itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri) ini disyariatkan dalam Islam dan terpuji bagi pelakunya. Betapa banyak mereka memiliki anugerah dan keutamaan di pundak para ulama dan manusia.
Yusuf al-Qawwas menuturkan, “Aku mendengar Abu Bakar An-Naisaburi berkata, ‘Tahukah kamu orang yang bermukim selama 40 tahun, tak pernah tidur di malam hari, makan sehari hanya dengan 5 biji kurma dan solat subuh dengan wuduk solat Isyak?’ Ia melanjutkan, ‘Itulah aku. Itu sebelum aku mengenal Ummu Abdurrahman…’ “

“Ilmu mula menghilang di paha-paha wanita.”
(Bisyr Al-Hafi)

“Barangsiapa yang terbiasa dengan paha-paha wanita, ia tak akan mendapatkan apa-apa.”
(Ibrahim bin Adam)

Bila menikah dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan, maka Allah telah memuliakan mereka dengan pakaian ketaqwaan, kesolehan dan kezuhudan. Allah memberikan perhiasan kepada meeka dengan perhiasan ilmu dan amal. Kebaikan mereka tersebut telah mengarahkan kepada semua itu, berkat kurnia dan rahmatNya.

Bila bersanding dengan isteri dapat memberikan kenyamanan pada diri sang suami, maka mereka memandang bahawa berdampingan dengan kitab dan ilmu dapat memberikan kenyamanan seperti itu pula atau bahkan lebih dari itu. Sehingga sebahagian dari mereka ada yang mengungkapkan:

Sebuah kitab yang kutelaah yang dapat memberikan kenyamanan
Itu lebih aku sukai daripada keberadaan seorang isteri
Aku mempelajarinya sehingga memperlihatkan kepadaku
Orang-orang yang hidup berabad-abad dan yang paling agung adalah yang mengajarkannya
 
“Saya berpendapat, bagi seorang penuntut ilmu pemula hendaknya ia menahan untuk tidak menikah sebisa mungkin. Sesungguhnya Imam Ahmad bin Hanbal tidak menikah hingga berumur 40 tahun. Semua itu dilakukan demi ilmu.”
(Ibnu Jauzi)

“Dianjurkan bagi seorang penuntut ilmu untuk membujang sebisa mungkin, agar dalam mencari ilmu ia tidak disibukkan dengan hak-hak keluarga yang harus ia penuhi dan disibukkan dengan mencari penghidupan.”
(Khatib al-Baghdadi)

Memilih hidup membujang kerana ingin berkonsentrasi menggeluti ilmu merupakan sebuah pilihan hidup yang luar biasa. Desah-desah syahwat yang pada sebahagian orang justeru men­jadi raja yang menguasai hati, berhasil terpinggirkan kerana dominasi cinta terhadap ilmu yang begitu menggumpal dalam relung-relung hati. Itulah sebuah catatan indah yang pernah tergoreskan dalam sejarah hidup sebahagian para ulama sebagai pewaris para nabi. Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah dan Imam At-Tabari termasuk sebahagian ulama yang ‘berijtihad’ terhadap diri mereka sendiri untuk tidak menikah kerana ilmu. Dan sekali lagi, ini merupakan sebuah pilihan hidup yang luar biasa!
Pilihan mereka untuk hidup membujang daripada menikah, dengan keilmuan, kesolehan, kejantanan dan kenormalan mereka, tak lain kerana mereka lebih mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri. Agar mereka dapat mencurahkan segenap kemampuan mereka guna berkhidmat untuk din dan ilmu. Agar mereka dapat mengerahkan segenap usahanya untuk menjabarkan syariat yang mulia ini, menyusunnya serta menyajikannya kepada banyak orang. Tak diragukan lagi bahawa sikap itsar (mendahulukan orang lain daripada diri sendiri) ini disyariatkan dalam Islam dan terpuji bagi pelakunya. Betapa banyak mereka memiliki anugerah dan keutamaan di pundak para ulama dan manusia.
Yusuf al-Qawwas menuturkan, “Aku mendengar Abu Bakar An-Naisaburi berkata, ‘Tahukah kamu orang yang bermukim selama 40 tahun, tak pernah tidur di malam hari, makan sehari hanya dengan 5 biji kurma dan solat subuh dengan wuduk solat Isyak?’ Ia melanjutkan, ‘Itulah aku. Itu sebelum aku mengenal Ummu Abdurrahman…’ “

“Ilmu mula menghilang di paha-paha wanita.”
(Bisyr Al-Hafi)

“Barangsiapa yang terbiasa dengan paha-paha wanita, ia tak akan mendapatkan apa-apa.”
(Ibrahim bin Adam)

Bila menikah dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan, maka Allah telah memuliakan mereka dengan pakaian ketaqwaan, kesolehan dan kezuhudan. Allah memberikan perhiasan kepada meeka dengan perhiasan ilmu dan amal. Kebaikan mereka tersebut telah mengarahkan kepada semua itu, berkat kurnia dan rahmatNya.

Bila bersanding dengan isteri dapat memberikan kenyamanan pada diri sang suami, maka mereka memandang bahawa berdampingan dengan kitab dan ilmu dapat memberikan kenyamanan seperti itu pula atau bahkan lebih dari itu. Sehingga sebahagian dari mereka ada yang mengungkapkan:

Sebuah kitab yang kutelaah yang dapat memberikan kenyamanan
Itu lebih aku sukai daripada keberadaan seorang isteri
Aku mempelajarinya sehingga memperlihatkan kepadaku
Orang-orang yang hidup berabad-abad dan yang paling agung adalah yang mengajarkannya
Islam merupakan agama yang amat mementingkan ilmu kepada umatnya. Perkara ini terbukti dengan adanya ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah s.a.w. yang menggalakkan umatnya, belajar, mengajar dan memberi ganjaran serta kelebihan orang yang berilmu (Taha 114,al-Zumar 9, al-Mujadalah 11). Tradisi keilmuan Islam berkembang pesat dengan tertubuhnya pusat pengajian terkenal di Baghdad, Basrah, Kufah dan Andalus. Begitu juga perkembangan perpustakaan yang menjadi pusat penyelidikan para ilmuan Islam.
Pada mulanya masjid dijadikan pusat penyebaran ilmu sebelum terdirinya kuttab (tadika), madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universiti). Ada beberapa faktor yang menyebabkan tradisi keilmuan Islam ini berkembang pesat iaitu galakkan daripada pihak khalifah dengan mendirikan institusi pendidikan, toko-toko buku dan perpustakaan berkembang pesat, guru-guru yang mengajar dengan penuh keikhlasan serta kegiatan pembukuan dan menjilid yang pesat ketika itu.
Kita sungguh kagum apabila membaca sejarah umat Islam dahulu yang begitu berminat membaca , mengajar serta memperkembangkan ilmu. Masing-masing berlumba-lumba untuk memberi saham dalam memajukan institusi pendidikan dengan mewakafkan sebahagian daripada harta mereka.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kita dapati ada tiga jenis perpustakaan iaitu perpustakaan umum, perpustakaan khas dan perpustakaan khas-umum. Perpustakaan umum iaitu perpustakaan yang dibuka untuk orang awam seperti perpustakaan di masjid-masjid. Antaranya perpustakaan Basrah dan Perpustakaan al-Azhar. Di Baghdad sahaja terdapat 38 buah perpustakaan umum dan di Cordova terdapat 70 buah perpustakaan.

Perpustakaan khas ialah perpustakaan peribadi yang dimiliki oleh para pembesar dan ulama seperti perpustakaan Fatah bin Haqan (w. 247H) dan perpustakaan Ibn Khasyab (m. 567). Perpustakaan umum-khas iaitu perpustakaan yang khusus untuk para ulama, sarjana dan pelajar. Perpustakaan ini tidak dibuka kepada umum tetapi dibenarkan kepada ahli-ahlinya sahaja. Antaranya Perpustakaan Baitul Hikmah yang didirikan oleh Harun al-Rasyid di Baghdad, Perpustakaan Dar al-Hikmah yang didirikan oleh Hakam Amrillah pada tahun 395H di Kaherah dan Perpustakaan Cordova.

Dar al-Hikmah mempunyai 100 ribu jilid buku dan 600 buah manuskrip. Perpustakaan Cordova yang dibina oleh Hakam al-Mustansir bin Abdul Rahman pada kurun ke 4 hijrah mempunyai enam ratus ribu buah buku dan katalognya berjumlah 44 buah buku. Perpustakaan Sabor di Baghdad yang didirikan oleh Sabor bin Ardashir seorang menteri Ibn Buwaih pada tahun 383H. Perpustakaan ini terdapat seribu al-Quran tulisan tangan dan 10,400 buah buku dalam pelbagai bidang. Di Baghdad terdapat seratus buah toko buku dan ulama yang tinggal di situ mencecah lapan ribu orang.

Begitulah rancaknya kegiatan tradisi keilmuan Islam pada ketika itu sedangkan dunai eropah dalam keadaan kekurangan buku dan perpustakaan. Dalam abad ke 9 Masehi, Perpustakan Katidral di Bandar Kensington hanya menyimpan 356 buah buku sahaja dan Perpustakaan di Hamburg mempunyai 96 buah buku sahaja. Ini menunjukkan orang Islam dari semua peringkat sangat menghargai buku dan ilmu. Mereka berusaha menyalin semula salinan-salinan manuskrip terutama al-Quran, hadis, sastera dan sains. Ibn Ishaq Nadim telah menulis buku yang berjudul al-Fihrist (Katalog) yang membicarakan buku-buku serta pengarangnya sehingga abad 10 masehi. Buku ini merupakan karya bibliografi dan katalog yang paling lengkap tentang manuskrip-manuskrip yang ditulis atau diterjemahkan oleh sarjana muslim. Walaupun begitu, banyak buku-buku tersebut telah hilang akibat peperangan dan pemusnahan perpustakaan. Kegigihan Imam al-Ghazali dalam menuntut ilmu patut dijadikan contoh. Walaupun beliau telah menjadi hujjat al-Islam tetapi masih lagi berguru dalam bidang hadis pada saat-saat akhir hayatnya.

Kegiatan keilmuan ini membuktikan bahawa tradisi keilmuan Islam berkembang pesat pada zaman tersebut bersama dengan kegemilangan tamadunnya. Sesuatu tamadun tidak dapat dibina tanpa tradisi keilmuan. Dengan kata lain, sesuatu tamadun berkembang berseiringan dengan tradisi keilmuan yang mantap dan tuntas. Oleh sebab itu, pembinaan tamadun kini mesti mengambil kira tradisi keilmuan dengan mewujudkan dan memperbanyakkan institusi pendidikan yang berkualiti dan bertaraf antarabangsa. Begitu juga, kita perlu melahirkan ulama, sarjana dan pemikir yang berkaliber yang mampu membuat kajian, penyelidikan dan penterjemahan. Tanpa unsur-unsur tersebut institusi pendidikan dan keilmuan tidak akan berkembang.

Perkara yang kita kehendaki sekarang ialah ibukota Kuala Lumpur bukan sahaja terkenal sebagai destinasi pelancongan tetapi juga dikenali sebagai pusat keilmuan sekurang-kurangnya di rantau ini sebagaimana yang berlaku di kota metropolitan yang lain seperti London, Paris, St. Andrew, Sorboune dan Kaherah. Mereka datang bukan sahaja membawa balik barangan elektronik buatan Malaysia tetapi beg-beg mereka penuh dengan buku-buku tulisan ilmuan kita. Inilah yang kita harapkan.

Untuk mencapai impian tersebut maka para sarjana dan intelek Islam tempatan perlu bekerja keras dalam mewujudkan suasana tradisi keilmuan yang harmonis. Perkara-perkara asas seperti buku rujukan perlu diperbanyakkan, penyelidikan mesti diperhebatkan dan perpustakaan perlu ditambah lagi atau sekurang-kurang buku-bukunya. Tabiat menulis di kalangan para sarjana dan ulama perlu dipertingkatkan lagi. Mereka perlu memikir apakah jenis buku serta penyelidikan yang diperlukan oleh masyarakat hari ini terutama dalam menghadapi pasca modernisme. Adakah hanya terbatas kepada buku-buku ringan semata-mata. Para penulis Islam perlu mengenal arus perdana dan keperluan yang harus dihadapi di zaman pasca modenisme ini. Sesungguhnya cabaran ilmuan sekarang lebih sengit dan tajam lalu menuntut penglibatan yang total daripada ilmuan itu sendiri.

Pada hari ini para ulama dan sarjana tidak boleh maju hanya berbekalkan “air liur” semata-mata tanpa menghasilkan buku ilmiah terutama karya-karya agung Melayu yang sewajibnya diterjemahkan ke bahasa antarabangsa. Walaupun kemungkinan kita akan mengalami kerugian dari segi material. Dengan demikian, harapan untuk menjadikan Kuala Lumpur tempat tumpuan peminat-peminat buku untuk berkunjung akan tercapai. Penulis pernah bertemu dengan beberapa orang profesor dari barat (orientalis) yang datang ke Pameran Buku Antarabngsa Kaherah untuk mencari manuskrip dan buku-buku turath untuk disunting dan diterbitkan semula. Mereka sanggup menghabiskan wang yang banyak hanya untuk mencari sebuah manuskrip atau buku. Kegigihan seperti ini yang masih kurang di kalangan sarjana muslim kini berbanding sarjana barat.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh Profesor Syed Naquib Al-Attas dengan membeli serta menggalakkan pelajarnya membuat kajian manuskrip harus diberi penghargaan. Begitu juga usaha beliau menubuhkan ISTAC sebagai pusat ilmu di rantau ini. Di rantau Melayu ini, masih banyak lagi tulisan-tulisan manuskrip yang memerlukan kajian dan penyuntingan daripada para pelajar dan sarjana. Usaha ini memerlukan sokongan dari semua pihak terutama dari pihak universiti, Perpustakaan Negara, Institut Terjemahan Negara dan Kementerian Pendidikan Malaysia bagi menggalakkan para pelajar dan pensyarah membuat penyelidikan dengan membiayai sepenuhnya projek tersebut. Sepertimana yang kita maklum, asas tradisi keilmuan ini telah mengakar dan merimbun pada zaman kesultanan Melaka. Raja-raja ketika itu turut sama menyumbang dengan menjadikan istana-istana sebagai tempat pertemuan alim ulama dan di situlah mereka berbincang mengenai hal-hal agama. Tradisi ini telah berkembang sehingga kini dan menjadi tanggungjawab generasi kini mempergiatkan lagi usaha supaya Malaysia menjadi pusat tumpuan para sarjana dari seluruh dunia.

Dalam meningkatkan tradisi keilmuan, sikap individu itu sendiri amat penting. Tradisi ilmu tidak akan berjaya hanya bersandarkan kepada bentuk fizikal bangunan institusi pendidikan tersebut dengan segala kemudahannya. Malahan yang lebih utama ialah kesedaran orang awam dalam menghargai ilmu dan budaya membaca yang tinggi. Kadar membaca di kalangan masyarakat Malaysia belum boleh dibanggakan lagi. Di negara-negara maju, kita boleh lihat masyarakatnya sentiasa berkepit dengan buku di mana-mana sahaja. Keadaan ini belum lagi berlaku di negara kita. Kalau adapun mungkin sebilangan kecil sahaja atau membaca bahan-bahan bacaan berunsur hiburan.

Sepatutnya kita mengambil manfaat sebanyak mungkin dalam dunia teknologi maklumat bagi menjana ilmu. Melalui internet, kita boleh mendapat bahan-bahan ilmu dengan mudah dan cepat, mengetahui buku-buku terbaru dalam pasaran dan tesis-tesis yang telah dibuat di universiti-universiti di seluruh dunia. Secara ringkasnya, tradisi keilmuan perlu penyegaran semula dan ia memerlukan sokongan semua pihak terutama mereka yang bergelar ulama, sarjana dan pemikir.

Ulama yang sebenarnya adalah ulama karyawan yang menulis buku-buku untuk generasinya dan generasi kemudian. Perkara ini disentuh oleh Abu Hasan Ali al-Nadwi kepada salah seorang anak muridnya dengan menyebutkan bahawa beliau menulis buku bukan untuk dirinya atau mengaut keuntungan tetapi untuk generasi kamu dan generasi selepas kamu.

Sejak kecil, orang tua kita mendidik dan melatih kita untuk bisa berbicara dan menulis. Lebih jauh lagi, dapat menulis dan membaca lebih baik. Kita pun dimasukkan ke sekolah dan didik untuk mendapatkan ilmu yang lebih. Dengan menulis pun kita dapat mencurahkan apa yang kita rasakan. Maka tak salah ketika menulis itu jadi salah satu cara mengungkapkan keinginan. Terucap dalam goresan kata-kata yang terukir dan menjadi bagian kehidupan yang harus dijalankan. Iya, semuanya dapat kita raih dengan menulis. Bukankah para ulama terdahulu terkenal dengan tulisan-tulisannya?Mengapa Harus Menulis?

Setiap hari, kita mendapat ilmu yang itu tak terhitung banyaknya. Maka kita perlu mengikatnya dengan tulisan agar ilmu tersebut tak terlupakan. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ رواه الطبراني والحاكم وصححاه ووافقه الألباني

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (Riwayat Tabrani dan Hakim, keduanya menyatakan sebagai hadis sahih dan disetujui oleh Al-Albani)

Bayangkan, apa jadinya apabila ilmu itu tidak ditulis? Tentu gambaran yang sangat buruk jadinya. Contoh nyata, ketika Abu Bakar r.a. atas usulan Umar al-Khattab r.a. memerintahkan Zaid bin Tsabit r.a. agar mengumpulkan al-Quran yang masih berada di dada-dada para sahabat, untuk dituliskan atau dibukukan. Karena kekuatiran Umar al-Khattab r.a. pada masa itu. Kita bertanya, mengapa seorang khalifah kuatir? Karena pada masa itu, banyak huffazh (penghapal Al-Qur’an) yang gugur sebagai syuhada dalam peperangan. Dari situlah Umar al-Khattab r.a. melihat bahawa al-Quran itu perlu ditulis.

Dari kisah di atas, kita dapat memahami bahawa ilmu perlu diikat dengan tulisan. Karena pada dasarnya sesuatu itu tidak ada yang abadi, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (Surah Ar-Rahman: 26)

Jadi, mengapa enggan mengikat ilmu dengan menulis?

Berkaitan dengan menulis, seorang dai sering berpikiran sempit. Ia memandang dakwah itu hanya di atas mimbar. Namun karakter setiap orang berbeda. Ada kalanya seseorang mahir atau lihai di atas mimbar tapi tidak mahir menulis. Demikian pula sebaliknya. Maka ketika seseorang tidak mampu menyampaikan ceramah di atas mimbar, setidaknya ia bisa menulis artikel atau buku. Dengannya, dia dapat menyampaikan apa yang tak mampu diutarakannya di atas mimbar. Dan ketika pemikiran itu sudah ada pada diri setiap muslim atau dai khususnya, tentu ‘tradisi’ ulama itu dapat lestari.

Menulis, Tabungan Akhirat

Menulis adalah bagian dari amal jariyah. Namun syaratnya, seorang penulis melakukannya ikhlas karena Allah سبحانه وتعلى semata. Sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berbunyi:

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus darinya amalannya, kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (Riwayat Muslim)

Bukankah menulis itu ilmu yang bermanfaat? Mari perbanyak tabungan akhirat dengan menulis sejak sekarang.

Perlukah Bakat dalam Menulis?

Bakat menulis sering dijadikan alasan untuk tidak menulis. Padahal para ulama terdahulu tidak pernah mempersoalkan bakat dalam menulis. Tapi yang terpenting adalah keinginan dan minat yang besar dalam belajar. Contoh, Imam Malik menulis kitab Al-Muwatta’ sementara beliau dalam pejalanan. Jika kita melihat, beliau tidak memiliki bakat besar dalam menulis, tapi beliau mempunyai kemauan kuat dalam menulis sehingga sepintas beliau nampak seperti orang yang berbakat besar dalam menulis. Maka wajarlah jika lahir karya-karya yang besar dari tangan beliau yang sampai sekarang masih bermanfaat bagi kaum muslimin.

Begitu juga dengan Imam Bukhari, penulis kitab Sahih Bukhari. Beliau menuliskan kitab tersebut bukan karena bakat, tetapi sekali lagi karena kemauan dan keinginan yang sangat besar dalam menulis dan menyebarkan ilmu beliau.

Nah, dari pernyataan tersebut kita dapat memahami bahwasanya bakat itu tak akan lahir jika tak ada kemauan. Karena dari kemauan itu, maka bakat pun lahir.

Katakanlah Anda dan semua orang memvonis diri mereka tidak berbakat, maka menulis artikel atau buku hanya akan tinggal mimpi belaka. Jika kita sudah lebih dulu memvonis diri kita tak berbakat menulis, tak mampu menulis, tak ada waktu menulis, tak ada ide untuk ditulis, maka jangan harap kita bisa menelurkan karya tulis.

Soal mampu atau tidak mampu, berbakat atau tidak, kadang itu hanya soal konstruksi mental yang keliru. Jika konstruksi mental sudah tidak pas, biasanya kita akan sulit melihat peluang-peluang yang bisa kita manfaatkan untuk merealisasikan gagasan-gagasan kita. Jadi, pada kesempatan pertama ini, penting sekali untuk membenahi dulu keyakinan kita, bahwa menulis buku atau artikel itu tidak sesulit yang kita duga, atau tidak memerlukan kemampuan-kemampuan yang melebihi rata-rata orang.

Cara Menulis Artikel Dakwah

Beranjak dari firman Allah سبحانه وتعلى yang berbunyi, artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Surah Al-‘Alaq: 1)

Ya, ayat di atas menunjukkan suatu perintah yang menyerukan kita untuk membaca. Kaitannya dengan menulis ialah membaca itu sendiri, sebagaimana ibarat perkataan yang mengatakan bahwasanya membaca tanpa menulis ibarat orang yang memiliki makanan dan dibiarkannya tanpa memakannya. Sedangkan menulis tanpa membaca ibarat mengeruk air dari sumur yang kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang yang mati di atas lumbung padi.

Jika membaca sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi tuntutan, akan muncul keinginan menulis. Segala sesuatu yang dibaca akan merangsang pendapat kita, baik yang berlawanan maupun yang sejalan dengan isi tulisan. Jika selama atau sesudah membaca sebuah tulisan, timbul perasaan, “Saya juga bisa,” Atau, “Ah, pendapat ini salah.” Insya Allah, bibit kepenulisan mulai mekar berkembang, dan perlu penyaluran segera. Jangan dibatasi dengan “ingin menulis” tanpa pernah mencobanya satu kali pun.

Selanjutnya adalah tumbuhkan kegemaran dan keterampilan menulis. Langkah-langkah ke arah itu, adalah sebagai berikut:

1. Tulislah apa yang ingin kita tulis pada waktu keinginan itu tiba-tiba muncul. Jangan dibiarkan menunggu hingga keinginan itu lenyap kembali. Calon penulis professional akan selalu menyiapkan catatan atau skema singkat, apabila keinginan menulis tiba-tiba muncul. Keinginan menulis tiba-tiba, berupa embrio apa-apa yang akan ditulis, disebut juga ilham, atau apa saja namanya, akan muncul di mana saja. Di perjalanan, di tempat kerja, di bus kota, di warung, dan lain-lain. Secarik kertas yang tersedia di saku kemeja mungkin akan menjadi penampung terpenting pertama dalam situasi dan kondisi mendadak. Atau ingatan yang kuat ikut berperan sebagai terminal gagasan.

2. Luangkan waktu khusus untuk menuliskan apa-apa yang sudah tercatat atau terpikirkan.

3. Jika waktu luang sudah ada, gagasan dan ilham sudah berhasil dituangkan, maka jadilah Anda seorang penulis.

Tangan-tangan mengadah mendoakan anda dan bibir memuji atas kebaikan yang anda berikan. Sesungguhnya pujian itu adalah nyawa kedua, anak yang abadi, warisan yang awet serta peninggalan yang diberkahi.

Seorang penyair berkata:

Seolah kau menemukan mutiara dalam buku.
Kau menjadi tahu bahawa yang haram
tidaklah halal bagimu.
Bila musim dingin tiba, kaulah matahari
dan bila musim panas datang
kaulah tempat berteduh.
Kau tidak pernah mengetahui
harta yang kau infaqkan
apakah banyak ataukah sedikit.
Kau menerima balasan dari orang sekitarmu
atas setiap kebaikan yang kau lakukan.
Kaulah sang pahlawan terhormat dan termulia.
Bila kami berpapasan denganmu
kami lihat cahaya di wajahmu
bagai seorang penakut mendapat suluh
di tengah malam.
Mengingatimu dalam setiap waktu
memberikan kami pertunjuk ke jalan baik
dan menyebut namamu berulang kali
tidak membosankan.
Kami rela mengorbankan jiwa kami
dengngan segala derita
laksana jamaah haji sedang bertahallul.

Umar Al-Khattab r.a. pernah mengatakan: “Kami mendapatkan sebaik-baik kehidupan kami di dalam sabar.”

Dia juga berkata: ‘Sebaik-baik kehidupan yang kami alami adalah dengan kesabaran. Seandainya kesabaran itu seorang lelaki, pastilah dia seorang lelaki yang terhormat.”

Ali bin Abi Talib r.a. pernah berkata: “Ketahuilah bahawa sesungguhnya sabar itu laksana kepala bagi jasad. Jika kepala diputus tidak ada gunanya jasad ini.: Kemudian dia mengangkat suaranya dan berkata: “Sesungguhnya tidak ada iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran.”

One response to this post.

  1. Terimakasih… makalat ini sangat bagus bagi kita-kta semua..
    Perfect and very good..

    ตอบกลับ

ใส่ความเห็น

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / เปลี่ยนแปลง )

Connecting to %s

%d bloggers like this: